Minggu, 15 Januari 2012

Gerimis Senja di Praha

Senja Agustus memerah di kaki bukit Petrin, Mala Strana. Langit mengencingi Praha tak habis-habis. Gerimis turun sejak siang dan tak juga membesar. Sungai Vltava baru saja mulai tenang setelah marah meletup-letup selama setengah pekan lalu. Dua hari lalu, airnya naik hingga sembilan meter. Jembatan Charles nyaris terendam. Kemarahan Vltava nyaris saja menenggelamkan Praha.

Kau ada di situ. Begitu saja. Berpayung jingga. Berdiri mematung. Matamu terlihat menerawang. Bajumu putih, sedikit berenda. Kalau saja matahari sedang berbaik hati pada Praha, rok tipismu tentu menerawang pula. Kau seperti berjejer dengan patung-patung monumen itu. Menjadi bagiannya yang paling menarik.

Monumen karya Olbram Zoubek itu sederhana belaka. Terdiri dari tujuh anak tangga dengan tujuh sosok di atasnya. Ketujuhnya terlihat sedang melangkah naik. Sosok yang berdiri di anak tangga terbawah adalah seorang lelaki dengan tubuh yang lengkap. Tapi semakin tinggi anak tangga, semakin tak lengkap bagian tubuhnya. Akhirnya, di anak tangga teratas, berdiri sosok yang sudah kehilangan begitu banyak anggota tubuhnya sehingga nyaris tak lagi berbentuk manusia.

Monumen ini adalah salah satu dari sekian banyak monumen yang dibangun di Republik Ceko setelah komunisme mati. Bagiku, pesan yang disampaikannya tegas-terang-benderang. Komunisme menawarkan kebohongan berongkos mahal. Seolah menyediakan anak tangga untuk naik menggapai kejayaan, tapi sejatinya adalah parade prosesi kematian kemanusiaan.

Sepekan menyusuri Praha cukup untuk menemukan betapa masa lalu, termasuk yang baru saja lewat, beroleh tempat penting. Monumen, mural, artefak museum, teater mutakhir, seni rupa beramai-ramai mengabadikannya dengan saksama. Sepertinya, ada kerja kolektif untuk menjaga ingatan. Semacam saling mengajak waspada.

Jakarta adalah lain cerita. Uang dihamburkan untuk lampu-lampu hias, air mancur, patung-patung pahlawan palsu dan monumen-monumen nirmakna. Ketika Praha dikepung ingatan, Jakarta terkubur kepalsuan dan lupa.

Kau tetap mematung menerawang di sana. Di pelataran monumen yang sempit ini, jarak kita, mau tak mau, dekat belaka.

”Kau pasti dari Asia. Filipina?” Suara empukmu menyengatku tiba-tiba.

”Eh…. Ya. Asia. Indonesia.”

”Mengherankan juga. Ada turis yang suka monumen jelek ini.” Batas antara seringai dan senyummu menyembul dari balik payung jingga. Gigimu putih berkilau.

”Memang jelek secara artistik dan arsitektural. Tapi aku suka pesan yang dibawanya. Ajakan waspada pada kembalinya kebrutalan masa lalu. Menjaga ingatan. Melawan lupa.”

”Hmmm….”

”Kenapa kau bilang ini monumen jelek?”

”Lihatlah tujuh sosok itu. Semua laki-laki. Padahal, lebih banyak perempuan yang jadi korban komunisme. Bahkan, perempuan adalah korban berlapis-lapis. Korban partai, negara, dan laki-laki. Dan si pematung tetap saja seperti laki-laki umumnya. Memandang perempuan hanya sebagai pelengkap. Statistik. Bukan manusia.”

”Wow! Kau punya sinisme para feminis!”

”No. No. No. Tanpa menjadi feminis, perempuan mana pun, bahkan laki-laki, dengan gampang bisa menangkap kejanggalan itu.”

”Sekarang giliranku yang mesti heran kalau begitu. Kenapa kau tampak menikmati monumen yang kau bilang jelek ini?” Aku menyergah, mengubah posisi.

”Sederhana. Di musim panas seperti ini, Praha diserbu turis. Mereka ada di mana-mana, kecuali di sedikit tempat yang tak populer dan dilirik sebelah mata seperti monumen ini. Jadi, jangan keliru. Aku tak sedang menikmati monumen jelek ini. Aku butuh senyap.”

Senyap menyergap senja Praha. Gerimis mulai mereda. Langit merah di balik Bukit Petrin memanggil-manggil malam.

***

Perjumpaan kedua kita adalah pada senja bergerimis berikutnya. Angin tak mau mengajak berkawan. Udara musim panas Praha pun sedikit mendingin.

”Boleh aku merapat ke tubuhmu?”

Permintaanmu tiba-tiba. Dan mustahil kutolak. Kios-kios souvenir terserak di Stare Mesto. Berderet-deret sepanjang Smetanovo Nabi hingga ke kaki jembatan Charles. Berdempetan. Kita berjalan saling merengkuh. Mengusir dingin. Seperti sepasang kekasih. Gerimis yang tak juga reda menyemai rambut panjang kita menjadi masai.

”Aku ingin bunuh diri.” Kau pecah sunyi dengan cara yang sama sekali tak kuduga.

”Hah!? Maksudmu?”

”Kurang jelaskah itu? Atau bahasa Inggrisku kurang bagus di telingamu?

”No. No. Inggrismu sempurna. Aku mendengar. Tapi….”

”Ya. Aku sedang berpikir untuk bunuh diri….”

”Bagiku tak masuk akal.”

”Maksudmu?”

”Kau begitu muda. Ranum. Cantik. Cerdas. Dunia membentang luas di depanmu. Di sekelilingmu, perubahan berdentum-dentum. Ceko-mu begitu bergairah. Kau hidup persis di tengah contoh sukses Eropa Timur dan Tengah. Masa depan menunggumu. Tinggal kau jemput. Kau dikepung musim semi daya hidup. Bagaimana mungkin kau justru ingin melangkah ke arah sebaliknya.”

”Oh… Begitukah kami dari kejauhan? Kau terlalu romantis. Kau pikir kematian komunisme adalah berita baik seluruhnya? Setelah komunisme mati, perubahan menghasilkan para penikmat sekaligus korban. Celakanya, aku menjadi yang kedua.”

”OK. Sorry untuk kenaifanku. Aku siap menjadi pendengar.”

”Ceritaku akan panjang. Ayo kita ke hotelmu saja. Seperti tadi kau bilang, malam ini kamu mesti packing kan? Keberatan kutemani dengan cerita panjangku?”

”No. Sama sekali tak keberatan.” Tentu aku menggeleng. Begitu baikkah Tuhan padaku senja ini?

***

Di luar, para pelancong hiruk-pikuk lalu lalang. Suara-suara beragam bahasa dunia menerobos masuk melalui jendela kamar hotel yang kita biarkan lebar terbuka. Seperti suara ribuan lebah yang pandai berganti dendang.

Ceritamu panjang. Lirih. Dan kelabu.

”Aku anak kesembilan. Bungsu. Di bawah kekuasaan komunis, hidup menjadi begitu rutin. Ayah dan Ibuku menjadikan kegiatan membuat anak sebagai selingan menantang. Anak demi anak lahir begitu saja. Setiap tahun satu. Berderet-deret seperti pagar.

Komunisme memang memanjakan. Negara menyediakan apa saja, mulai sabun mandi hingga roti, dengan tak ada lebih pada seseorang dibanding yang lain. Di bawah komunisme, orangtuaku dan siapa pun tak dibiasakan apalagi didesak untuk berkompetisi. Segalanya tersedia tanpa perlu upaya berlebih. Tapi itulah, hidup kami menjadi manja. Tidak menjadi kaya, tapi dalam kesehajaan yang terpelihara.

Hidup terasa mudah belaka sampai kemudian Komunisme dijatuhkan oleh Revolusi Beludru dan keadaan berbalik seratus delapan puluh derajat. Demokrasi memaksa kami untuk berkompetisi. Negara tak lagi jadi penyantun, tapi membiarkan kami saling sikut untuk bertahan dan saling berebut hidup yang lebih baik.”

Suara-suara bising beragam bahasa dunia yang menyelinap dari balik jendela terbuka mulai perlahan menyenyap. Malam makin sepuh. Kubayangkan, para turis yang mulai letih telah memenjarakan dirinya di kamar-kamar hotel atau menyerbu panti-panti pijat dan klub-klub malam untuk menukarkan penat dengan keletihan yang lebih menyenangkan.

Suaramu masih benderang, ceritamu seolah tak berujung, sementara ujung malam beringsut mendekat.

”Ibuku yang terlampau tua di hadapan kapitalisme, tersingkir dan tak lagi terpakai sebagai pramuniaga di sebuah kios di Kota Tua. Ayahku terkena rasionalisasi, dipecat dari sebuah lembaga birokrasi yang kelebihan pegawai, tanpa dipensiunkan. Kakak-kakakku sibuk dengan urusan masing-masing. Hidup yang keras membikin mereka tak lagi saling peduli satu sama lain.

Aku terjepit dalam ketiadaan pilihan sampai sebuah tawaran yang begitu manis datang begitu saja dua tahun lalu. Sebuah biro penyalur tenaga kerja menawariku menjadi pramusaji pada sebuah restoran besar di Berlin. Kusambut tawaran itu dengan tangan terbuka sambil bersyukur betapa Tuhan telah begitu baik padaku.”

Kau terdiam. Menunduk. Matamu segera menjadi telaga. Dua sudut bendungan di sisi luar pangkal hidungmu makin tak mampu menahan air telagamu yang membanjir. Air matamu berjatuhan tanpa tercegah. Aku merapat begitu saja. Kau menjatuhkan bahumu ke dadaku. Lalu suaramu menyendat pada pangkal cerita yang rupanya segera tiba.

”Aku ditipu. Aku dijual ke sebuah tempat prostitusi di timur Berlin. Garis nasib yang kelam mesti kuterima tanpa daya. Badanku remuk dihantam kerja jahanam itu. Kemanusiaanku terbunuh oleh rutinitas itu. Membuka pintu kamar, membiarkan diperlakukan sebagai binatang, memunguti uang yang dilempar begitu saja ke atas tempat tidur sambil mendengar pintu ditutup dan suara sepatu lelaki di lantai menjauh hingga hilang ditelan lobi berkarpet.

Badanku hancur, tapi hatiku lebih hancur. Kemanusiaanku makin hari makin tak bersisa. Benar-benar binasa.”

Air matamu membasahi bahuku. Dingin. Kita diterkam senyap yang tiba-tiba menjadi asing.

”Untunglah aku akhirnya bisa melepaskan diri dari enam bulan terpanjang dalam hidupku itu. Kabur dari Berlin, kembali pulang. Tapi hidup tetap tak bersahabat. Akhirnya kuulang pekerjaan yang sama di sini. Kali ini atas kemauanku. Persisnya, karena aku tak punya pilihan lain. Hingga sampailah aku di titik ini. Ketika sungai Vltava mengamuk tempo hari, keinginanku untuk mengakhiri hidup menderas begitu saja seperti air sungai yang sedang murka.

Ya… aku ingin bunuh diri. Rasanya aku sanggup menghadapi hidup yang berat dan keras, tapi tidak hidup yang terasa hambar seperti ini….”

Sesenggukanmu mengeras. Sebuah cara pilu mengakhiri cerita panjangmu. Dalam pelukanku yang merapat, semua bagian badanmu terasa bergetar. Seperti mesin pengeras jalan yang dengan lembut menekan-nekan dadaku. Lembut sekali. Melahirkan rasa yang asing dan nyaris tak kukenali.

Malam makin larut dalam sunyi. Lalu semua terjadi begitu saja. Kau tak lagi kupeluk, tapi kita saling memeluk. Dan pada dini hari pengujung musim panas itu, kita tergeletak kelelahan begitu saja seusai perjalanan saling bertaut penuh gelegak yang menguras keringat.

***

Senja bergerimis. Langit di atas Bandara Internasional Praha tersapu terlalu banyak kelabu. Birunya seperti malu-malu. Enggan memperlihatkan diri.

Kau mematung menopang dua matamu yang nanar. Lagi-lagi bertelaga. Baru saja kita menunaikan pelukan selamat tinggal. Aku nyaris kaku ketika kau bisikkan kata-kata itu….

”Terima kasih banyak Lusi. Untuk pertama kali dalam waktu yang sangat panjang, aku sanggup berbagi dan menangis. Kupikir air mataku sudah habis di Berlin. Kembalilah, Lusi. Aku akan menunggu. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta padamu.”

Suaramu parau. Aku hanya bisa mengeratkan pelukan dan mengusap-usap lembut punggungmu. ”Aku akan segera menghubungimu, Elena. Sesampai di Jakarta.”

Berjalan menuju ruang tunggu pesawat yang akan membawaku ke Jakarta seperti memasuki lorong panjang yang asing. Kita menjauh, tapi suaramu seperti makin keras memanggil-manggil.

Diam-diam, kupastikan untuk segera kembali. Diam-diam, aku terganggu perasaan serupa Elena. Jangan-jangan aku sudah jatuh cinta.

Sosokmu hilang tertelan kelokan menuju ruang tunggu pesawat. Dan telepon genggamku bergetar.

”Mama, kami tak bisa tidur. Tak sabar menunggumu pulang. Aku dan anak-anak akan menjemputmu di Cengkareng.” Suara sengau milik suamiku terdengar dari tengah malam Jakarta. Keriangannya tak bisa disembunyikan.

Ruang tunggu yang ramai tiba-tiba terasa begitu senyap. Di belakangku, terhalang berlapis-lapis dinding, di bawah gerimis senja Praha seorang perempuan Ceko sedang menangisi kepergianku. Nun di depanku, dipeluk malam Jakarta, seorang lelaki mendekap rindunya yang meluap untukku.

Bintaro, 2011

Eep Saefulloh Fatah

Sumber kompas 15 Januari 2012

Jumat, 13 Januari 2012

Awas Penipuan Lewat tokobagus.com

Pada Kamis 5 Januari 2012 saya membuka halaman web tokobagus.com. Di sana ada yang menjual kriteria telepon seluler BlackBerry Gemini Curve 9300 3G dengan harga murah karena lagi promo hanya di minggu tersebut. Saya kontak penjual  lewat no kontak 08991755666 yang mempunyai user hidayat211 via sms. Kami sepakat BB tersebut turun dari Rp 1,4juta menjadi Rp 1,3 juta.

Namun memang ada hal yang aneh, spesifikasi kamera yang diberikan lebih tinggi daripada yang saya tau tentang BB. Setelah sepakat harganya, penjual memberitahu nomor rekening BRI atas nama sahat panggabean, rek 1207.01.000792.50.7 BRI CAB: KK PULOGADUNG JKT. Penjual itu menjanjikan barang sampai besok Jumat dengan menggunakan jasa TIKI/JNE.

Si penjual juga menolak untuk bertemu (Cash On Delivery) dengan alasan di bawah Rp 20 juta hanya melayani lewat transfer antar bank saja. Ketika saya tanya apakah barang tersebut BM (blackmarket), dia bilang bukan BM, bukan second, melainkan baru dan bersegel. Pin dijamin aman. di halaman iklannya di tokobagus.com dia memberikan ketentuan yang cukup serius dan meyakinkan bahwa dia betul-betul ingin melayani serious buyer only.

Penjual juga tidak menggunakan jasa rekber dengan alasan menghindari ketidakpercayaan dengan kinerja rekber dan untuk menghindari penyalahgunaan rekening. Setelah saya kirim sejumlah uang yang disepakati, dia menanyakan nomor struk hasil transfer yang keluar dari mesin ATM untuk memastikan bahwa penjual tersebut tidak akan salah sasaran mengirimkan paket pesanan kepada pembelinya.

Tetapi sampai esok harinya, paket yang ditunggu tidak kunjung tiba. Saya menanyakan hal tersebut dan si penjual menjawab bahwa pesanan saya masuk pendingan karena orderan banyak jadi akan sampai keesokan harinya lagi (hari sabtu). Hari sabtu pun sama, tidak ada kiriman yang datang ke alamat saya dan ketika saya tanya, kenapa belum sampai dan kapan sampainya, dia menjawab senin akan tiba.

Ketika senin malam tidak kunjung tiba saya coba hubungi si penjual lagi dari nomor saya, namun tidak ada jawaban. saya coba lagi pakai nomor lain yang dia tidak kenal baru dia jawab dan katanya pending lagi sampai selasa. Saya minta nomor resinya supaya saya bisa cek tapi si penjual berdalih nomor resinya ada di temannya dan dia harus cek dahulu. saya tunggu nomor resinya tapi tidak ada kbr. sampai selasa (10/1) tidak ada kiriman, dan ketika saya hubungi si penjual masih berusaha menjawab dengan tertunda dari jasa kirimannya.

Akhirnya ketika saya minta penjual untuk mengembalikan uang yang telah saya transfer, si penjual memutuskan telepon. Saya minta tokobagus.com bertanggungjawab atas penipuan lewat situs penjualan online miliknya. Jangan sampai banyak orang tertipu akibat ketidakprofesionalan tokobagus.com dalam meenyeleksi para tenannya. Waspadalah bagi Anda yang ingin membeli barag dengan modus ini.

Vivi,  Bandung

Sabtu, 07 Januari 2012

Memperlakukan Karyawan Seperti Keluarga Sendiri (4)

Sebagai seorang pebisnis, Hamzah Sulaiman sangat memperhatikan kesejahteraan karyawannya. Dengan memperlakukan karyawan seperti keluarga sendiri, ia sukses mengembangkan Mirota Batik menjadi pusat belanja terkenal di Yogyakarta.

PERUSAHAAN adalah milik karyawan, karyawan adalah bagian dari perusahaan. Demikianlah motto  hamzah  Sulaiman dalam mengembangkan usahanya selama ini. Sejak awal merintis usaha Toko Mirota Batik, ia sangat memperhatikan kesejahteraan karyawan.

Baginya, karyawan merupakan pihak yang harus dirangkul dalam mengembangkan bisnis. "Sebagai pemimpin, saya harus bersama-sama karyawan membangun usaha ini," kata  hamzah .

Contohnya, ketika Mirota Batik di Malioboro terbakar pada 2004 silam. Tak lama setelah peristiwa itu,  hamzah  langsung mengumpulkan karyawan Mirota yang saat itu berjumlah sekitar 100 orang. Di hadapan para karyawan,  hamzah  menegaskan bahwa tak ada satupun karyawan yang dipecat.

Padahal, saat itu, Mirota sudah ludes dilalap si jago merah, dengan nilai kerugian diperkirakan mencapai Rp 4 miliar. Kepada karyawan ia menegaskan, kebakaran Mirota bukan saja kerugian bagi dirinya, melainkan karyawan juga. Ia pun mengajak karyawan bangkit bersama dan membangun Mirota kembali. "Bagi saya, karyawan merupakan aset yang paling berharga," ucapnya.

Metode ini terbukti sukses membangkitkan kembali kejayaan Mirota Batik. Setelah sukses, ia tidak lantas melupakan karyawan yang sudah bersusah payah ikut membantu mengembangkan usahanya. Keuntungan Mirota tidak hanya dinikmati oleh  hamzah  sebagai pemilik saja. Bahkan, karyawan juga diberi kesempatan memiliki saham.

Karena memiliki saham, karyawan berhak mendapatkan dividen. Sistem bagi hasil ditetapkan berdasarkan porsi kepemilikan saham karyawan di Mirota. Selain menerapkan sistem dividen,  hamzah  juga membangun kompleks perumahan untuk didiami para karyawannya. Hingga kini sudah ada empat kompleks perumahan karyawan yang dibangun Mirota.

Pembangunan rumah ini bertujuan untuk membuat hidup karyawan lebih terjamin dan sejahtera. Dengan begitu, mereka bisa benar-benar fokus dengan pekerjaannya.  hamzah  juga memberikan gaji lumayan besar bagi karyawan. Di Mirota Batik Malioboro, saat ini terdapat 260 karyawan dengan gaji rata-rata Rp 5 juta hingga Rp 6 juta per bulan.

Sementara jumlah karyawan di Mirota Batik Kaliurang sebanyak 15 orang, dengan gaji rata-rata Rp 4 juta hingga Rp 5 juta per bulan per orang. Sementara jumlah karyawan di Restoran House of Raminten sebanyak 82 orang dengan gaji rata-rata Rp 3, 1 juta per orang. Gaji tersebut tergolong tinggi di Yogyakarta yang terkenal dengan standar biaya hidup yang rendah. Dengan pendekatan semacam itu, seluruh karyawan betah bekerja dengan  hamzah .

Lantaran banyak yang bertahan lama, hubungan  hamzah  dengan karyawan sudah ibarat hubungan keluarga. Kepada karyawan, ia juga tidak pernah marah.Kalaupun ada yang salah, ia tetap menegur dengan menggunakan bahasa Jawa yang halus.

Semua karyawan juga diajari sopan santun, dengan memberi contoh kepada mereka tentang tata krama dan bicara lembut. (Selesai)

Noverius Laoli

Setelah Toko Batik, Hamzah Masuk Bisnis Restoran (3)

Jatuh bangun mengelola usaha tak membuat Hamzah Sulaiman patah arang. Setelah terbakar pada 2004, Mirota Batik justru kian berkibar. Di masa tua, naluri bisnisnya pun tetap memanggil. Ia pun mendirikan resto House of Raminten.

JATUH bangun menjalankan usaha sudah dirasakan  hamzah  Sulaiman. Pengalaman pahit yang pernah dilaminya ketika Mirota Batik di Malioboro terbakar. Peristiwa itu terjadi pada 2 Mei 2004. Tidak ada satupun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah.

Tetapi, hal itu tidak membuatnya putus asa. Pantang menyerah dan terus berusaha memang menjadi moto hidupnya. Untungnya, ia masih memiliki sisa tabungan untuk membangun kembali Mirota. Hanya dalam waktu setahun,  hamzah  berhasil membangun kembali gedung Mirota Batik di Malioboro. Bahkan, gedung baru tersebut tampak lebih megah dari bangunan lama.

Terdiri dari empat lantai, Mirota Batik kini menyerupai mal. Yang memakan waktu agak lama ketika ia harus mengisi dan mengembalikan detail toko. Konsepnya, ia ingin membangun tempat wisata belanja batik dan kerajinan yang nyaman. Tapi, semua kesulitan itu berhasil dilaluinya. Mirota kali ini lebih mentereng dan lengkap.

Jumlah pengunjung pun kian membludak, terutama di akhir pekan. Setelah Mirota berkembang pesat,  hamzah  memutuskan untuk mundur dan menyerahkan pengelolaan toko kepada orang kepercayaan. "Saya memilih pensiun," ujarnya. Namun, naluri bisnis tetap saja memanggilnya. Di masa pensiun, ia justru mendirikan restoran bernama House of Raminten.

Restoran berbentuk kafe ini berdiri pada 26 Desember 2008 di kompleks rumahnya, di Jl FM Noto No 7 Kotabaru, Yogyakarta.  hamzah  membangun House of Raminten dengan harapan, ia tidak hidup kesepian setelah pensiun. Dengan adanya restoran ini,  hamzah  masih memiliki kegiatan untuk menyibukkan diri. Dia ingin agar di masa pensiun ini dapat melakukan hal-hal yang ringan dan disukainya. Lokasi House of Raminten berada di pendopo, tempat  hamzah  latihan menari.

Dan, awalnya menu yang ditawarkan hanya mi instan dan sejenisnya. Nah, dari sekedar ingin memiliki kesibukan, kini House of Raminten justru berkembang pesat. Dengan jumlah karyawan mencapai 82 orang, House of Raminten ramai dikunjungi pembeli. Buka selama 24 jam, restoran ini menawarkan menu andalan nasi kucing dengan harga Rp 1.000 per porsi.

Selain itu, resto juga menyediakan juga nasi putih, oseng tempe, serundeng dan teri. Rata-rata harga makanan di House of Raminten sekitar Rp 10.000 dan termahal Rp 20.000 per porsi. Lantaran sudah besar, pengelolaan restoran kini diserahkan kepada anak angkat yang menjadi kepercayaan  hamzah . Suasana restoran pun dibuat seperti Yogyakarta mini, ada kereta kencana dan dokar.

Dengan suasana ini, jumlah pengunjung terdongkrak. Dalam semalam pemasukannya mencapai Rp 1,5 juta. Karyawan restoran ini bukan berasal dari kalangan profesional. Sebab, yang menjadi pelayan kebanyakan adalah karyawan lama  hamzah  di Mirota Batik.

Tugas mereka melayani dan menyajikan makanan pesanan para pembeli. Namun, karyawan tersebut saling berbagi pengalaman, termasuk dalam hal memasak. "Ada juga karyawan yang ahli memijat, namun juga pintar memasak," jelasnya. (Bersambung)

Noverius Laoli

Berbekal Kemampuan Desain Batik, Kini Menjadi Pengusaha (2)

Sukses yang diraih Hamzah Sulaiman tidak datang begitu saja. Berbekal kemampuan mendesain batik, ia nekat menyulap toko kelontong warisan bapaknya menjadi toko batik. Berulangkali jatuh bangun, ia sukses membesarkan Mirota.

MIROTA Batik kini menjadi salah satu tempat belanja favorit bagi wisatawan yang berlibur di Yogyakarta. Toko empat lantai yang terletak di Jalan Malioboro itu menjajakan berbagai produk batik dan kerajinan khas Yogyakarta. Mirota Batik memang bukan lagi sekadar toko batik, melainkan pusat barang seni.

Setiap pengunjung Mirota langsung disambut alunan gending Jawa, sehingga kesan tradisi Yogyakarta begitu kental. Tak heran, bila Mirota Batik kini memiliki pasar dan pelanggan sendiri. Semuanya dimulai ketika ayah  hamzah , Hendro Sutikno meninggal dunia di tahun 1975. Kala itu,  hamzah  yang baru menginjak usia 25 tahun mewarisi warung kelontong ayahnya di Jalan Malioboro, Yogyakarta. Di tangannya, warung kelontong tersebut disulap menjadi Mirota Batik.

Kecintaan pada seni dan budaya Jawa yang mendorongnya membuka toko batik. Kebetulan ia juga bisa mendesain batik. "Bakat desain batik, saya kembangkan secara autodidak," ujarnya. Saat awal didirikan pada tahun 1978, Mirota Batik belum sebesar sekarang. Selain tempatnya kecil, pembelinya juga masih sepi. Apalagi, Malioboro saat itu masih sepi.

Tapi  hamzah  tak patah arang. Meski sepi pembeli, ia tetap memasarkan batik-batik hasil desainnya di Mirota. Usahanya mulai berkembang saat ia menjalin kerjasama dengan pemilik Batik Danar Hadi. Selain mendapatkan pasokan batik dari Danar Hadi,  hamzah  juga mendatangkan batik dari berbagai daerah. Agar isi tokonya lebih bervariasi, iapun mulai memasarkan barang-barang kerajinan khas Jawa.

Untuk itu, ia suka membawa contoh barang ke perajin untuk dipasarkan di tokonya. Hubungannya dengan para perajin ini dimulai sekitar tahun 1980-an. Saat itu, tak jarang ia mencari perajin hingga ke pelosok daerah. Lambat laun, usahanya itu mulai membuahkan hasil sampai akhirnya dilirik orang. Selain isi toko makin bervariasi, desain interior toko yang unik juga menjadi daya tarik Mirota Batik.

Bisa dikatakan, Mirota kini menjadi semacam miniatur Yogyakarta. Bahkan ada yang berpendapat, bagi wisatawan yang tidak sempat menyusuri Malioboro, cukup berkunjung ke Mirota karena semua sudah terwakili dan tersedia lengkap di sini.

Setelah Mirota Batik di Malioboro makin berkembang,  hamzah  pun melakukan ekspansi dengan membuka cabang baru di Jalan Kaliurang, Yogyakarta. Toko di Kaliurang juga berkembang dengan pesat. Namun, di tengah pesatnya pertumbuhan bisnis yang dikelolanya, sebuah musibah datang menghampiri. Pada 2 Mei 2004, Mirota Batik di Mailoboro terbakar.

Tidak ada satupun yang tersisa pasca kebakaran tersebut. Semuanya ludes dilalap si jago merah. Namun,  hamzah  tidak patah arang. "Cobaan berat itu harus dihadapi dengan sabar dan tetap berjuang," ujarnya. Setelah kejadian itu,  hamzah  memutuskan membangun Mirota dari nol lagi. Tekadnya terbukti sukses. Mirota berjaya lagi bahkan berdiri menyerupai mal modern dengan ciri khas Yogyakarta. (Bersambung).

Noverius Laoli

Kisah Hamzah Membesarkan Grup Mirota di Yogyakarta (1)

Kesuksesan Hamzah Sulaiman dalam membesarkan Mirota Batik dimulai dari toko kelontong warisan ayahnya. Toko ini besar karena dikelola dengan cara unik. Setiap pengunjung merasakan nuansa seni dan budaya khas Yogyakarta.
noverius Laoli

MEMBANGUN bisnis batik tidak cukup hanya dengan mengandalkan modal dan kerja keras. Tapi juga diperlukan strategi dan kreativitas dalam memasarkan produk batik tersebut. Itulah yang dilakukan  hamzah  Sulaiman, seorang pengusaha sukses, pengelola kelompok usaha Mirota. Ini adalah jaringan ritel legendaris di Yogyakarta.

Peritel ini antara lain mengoperasikan, Mirota Batik, yang dikenal sebagai penyedia batik, kerajinan kayu, perak, tas laptop bermotif batik, dekorasi rumah, sepatu atau sandal, topi, tikar, asbak, minyak aroma terapi, dupa, hingga makanan ringan. Sebagai toko batik, suvenir dan kerajinan, Mirota Batik menjadi salah satu tempat favorit belanja wisatawan yang berlibur di Yogyakarta.

Kisah pria kelahiran Yogyakarta, 62 tahun silam, ini mengembangkan Mirota, bermula dari "terpaksa". Saat berumur 25 tahun, ayahnya, Hendro Sutikno, meninggal pada tahun 1975. Hendro adalah pendiri cikal bakal Mirota. mau tak mau,  hamzah  harus mewarisi toko kelontong di Malioboro warisan orang tuanya.

Hamzah  bahu membahu dengan kakaknya, membangun toko kelontong itu hingga besar seperti sekarang. Salah satu upayanya adalah membuka cabang Mirota di Jalan Kaliurang, sekitar 16,5 kilometer (km) dari Kota Yogyakarta. Setelah itu, ekspansi Mirota tak terbendung. Oh, iya. Nama Mirota sendiri berasal dari nama toko roti milik ibunya.

Saat itu, ibunya membuka toko roti bernama "Minuman dan Roti Tart" yang disingkat menjadi "Mirota". Pusat Mirota hingga saat ini masih berada di Malioboro. Toko yang terdiri dari empat lantai ini selalu penuh sesak dengan pembeli. Toko ini mulai dirintis sejak tahun 1977 dengan modal Rp 80 juta. Toko unik ini berdiri sejajar dengan toko-toko lainnya di jalan Malioboro. Toh, Mirota mampu menarik minat banyak pembeli karena toko ini dikelola dengan cara unik.

Misalnya mendesain toko dengan alat-alat kesenian Jawa kuno. Kebetulan, sejak kecil  hamzah  memang menyukai seni. "Sejak saya umur enam tahun, saya suka menari Jawa kuno," ujarnya. Dengan memadukan kesenian Jawa,  hamzah  mengaku tidak hanya menjual batik dan suvenir saja di tokonya. Dia juga menjual suasana dengan kekayaan tradisi yang ada di Yogyakarta.

Berbagai ornamen Jawa yang menghiasi interior toko di antaranya bunga-bunga khas Keraton Yogyakarta, pernak-pernik keraton, sesajen dan gamelan. Bagi  hamzah , tokonya harus tampil beda dari toko-toko lain yang ada di Yogyakarta dan Jakarta. Upayanya itu tidak sia-sia. Terbukti, kehadiran berbagai ornamen Jawa itu mampu menyedot minat konsumen untuk mengunjungi toko tersebut.

Dengan mengunjungi Mirota,  hamzah  ingin pembeli sadar bahwa mereka sedang berada di Yogyakarta. Selain memasukkan ornamen jawa,  hamzah  juga memiliki kiat lain dalam mengelola tokonya agar bisa sukses.

Salah satunya adalah memperhatikan kesejahteraan karyawan Untuk itu, ia menerapkan sistem bagi hasil. Jika penjualan di toko meningkat, karyawan akan mendapatkan penghasilan yang besar. Jika penjualan turun, pendapatan karyawan juga akan turun. (Bersambung)

Noverius Laoli

Jumat, 06 Januari 2012

Ketika Pengangkatan Menjadi Kekuatan


Momen Yang Jatuh Pada Penghujung
Bulan Desember ini,
Menjadi Hadiah Natal
yang Menyejukkan Hati

Merangkai hidup, tak ubahnya merangkai puisi, banyak yang abstrak tapi penuh makna.
Itulah yang aku mulai dalam salah satu momen kehidupanku.

Memulai sesuatu memang tidak mudah, apalagi jika sesuatu itu menuntut perjuangan dan pengorbanan yang tinggi. Tak jarang, acapkali perasaan ragu, pesimis menganggu perjuangan itu karena alasan satu hal yakni ada perasaan takut yang menganggu.

Perjuangan yang aku lalui itu dipenuhi rasa takut akan kegagalan, dan ketidaksiapan untuk itu.

Namun, dalam perjuangan yang selalu dicampuri rasa takut itu, aku berhasil menyisihkan rasa takutku untuk memacu semagatku meraih apa yang kuimpikan. Ketika impian itu tercapai, hatipun lega, dan perasaan senangpun tak terkira.

Itulah hadiah natal bagiku pada tahun 2011. Aku akhirnya setelah tiga kali penilaian per empat bulan, diputuskan lolos dan masuk diterima sebagai karyawan.

Aku mengulang kembali peristiwa masa silam. Aku ingat persis setahun lalu, ketika aku memutuskan mengubah haluan hidupku dan masuk ke perusahaan sebagai kuli tinta. Saat itu, posisiku sudah nyaman sebagai guru di salah satu SMA Katolik yang terkenal dengan gedungnya yang megah bagai mal, meski baru seumur jagung.

Satu setengah tahun aku berbakti di sekolah tersebut sebagai guru PKN dan Sosiologi. Satu tahun pertama aku menjadi guru biasa, namun di tahun kedua - meskipun hanya separoh karena keburu pindah kerja - aku menjabat sebagai wakil kepala sekolah bidang kesiswaan. SK yang kuterima selama satu tahun, namun yang bisa kujalani hanya separohnya.

Dering telepon pada malam hari Kamis bulan November 2010 itulah yang mengubah haluan hidupku selamanya. Seorang perempuan paruh baya, yang menjabat sebagai kepala HRD di perusahaan itu menelponku dengan suara tenang tapi penuh makna. "Apakah Anda masih bersedia jadi wartawan,"? "Yah saya masih mau mbak," jawabku spontan.

"Kalau begitu, selasa pekan depan kami menunggu Anda untuk wawancara tepat pukul 13.00 Wib di Kantor kami," ujar suara itu sambil memberitahukan alamat kantornya. "Baik aku siap  mbak," balasku dengan penuh harap.

Itulah awal mula perubahan itu. Aku berani membuat janji dengan orang lain di Ibu Kota, padahal aku tidak tinggal di daerah Ibu Kota Negara tersebut. Sementara aku pada hari itu harusnya masuk ke sekolah dan mengajar seperti biasa.

Izin menjadi sesuatu yang susah dari sekolah, apalagi kepala sekolahnya terkenal garang dan tidak kenal tolerangsi. Izin sakit hanya itu yang tidak bisa ditolak, alasan lain biasanya selalu dimentahkan.

Saat aku menerima telpon itu, aku tidak berpikir panjang lagi. Meskipun aku masih diselimuti ketakutan kalau tidak diberi izin, tapi aku harus berani mengambil risiko. Aku begitu yakin, perubahan itu segera datang. Bagaikan sudah direncanakan, sepuluh menit sebelum telpon itu datang, aku mengatakan kepada pacarku asalan saja, bahwa aku ingin pindah kerja ke tempat yang lebih baik.

Intuisi yang mendorongku membicarakan itu, seolah memang sudah ditakdirkan begitu adanya. Dan akhirnya, angin perubahan itu benar-benar datang, bahkan aku tak siap menerimanya, namun kehadirannya memaksaku untuk berbenah diri.

"Aku akan menemani kakak ke ibu kota," ujar pacarku kala itu dengan mata berbinar dan suara riang. Padahal, ia juga sudah bekerja di salah satu perusahaan, dan ia akan meninggalakan pekerjaan pada hari itu hanya untuk mengantarku ke kantor yang barusan menggetarkan telepon genggamku beberapa menit yang lalu itu.

"Ia baguslah, karena aku tidak tahu lika-liku kota Metropolitan itu, aku nyaris tidak pernah pergi sendiri ke sana," balasku dengan gembira. "Ia aku mengerti sedikit-sedikit kok, nanti kita tinggal nanya-nanya aja,' sambung pacar pertamaku itu, pasca keluar dari Biara tempatku bernaung selama lima tahun belakangan.

"Maaf bu, aku tidak bisa masuk kerja hari ini, aku sakit," kalimat itupun melayang dari ponselku menuju ponsel kepala sekolah. Telepon gengam itu beberapa detik kemudian aku matikan. Persoalan selesai, pagi-pagi pukul 05.00 Wib aku sudah berada di rumah pacarku, dan tepat pukul 06.00 Wib kami menuju stasiun kereta api dan memesan tiket keberangkatan pukul 06.30 Wib. Kami tiba di tujuan pukul 11.00 Wib dan menuju kantor perusahaan tersebut untuk interview.

Pukul 14.00 Wib, aku dipanggil untuk wawancara. pacarku menunggu di bawah. Tak berapa lama wawancara sekitar 60 menit, perempuan yang menelponku malam itu dan juga turut mewawancaraiku mengatakan. "Anda sekarang diterima, kapan bisa masuk kerja," ujarnya mengejutkanku.

Akupun bingun menentukan harinya, soalnya aku masih terikat pekerjaan di sekoalah. Dalam keraguan dan ketakutan di mana semuanya serba bercampur, aku memutuskan masuk awal tahun saja. Soalnya, sekarang sudah penghujung November.

Penerimaan yang tanpa basa basi ini ada latar belakangnya. Aku sebelumnya pernah tes di induk perusahaan ini sebagai kuli tinta, tapi tidak diterima, tapi belakangan, perusahaan ini yang menginduk pada perusahaan di mana aku pernah tes memberikan kesempatan kedua kepadaku. Itulah sebabnya, mereka tidak lagi butuh melakukan tes lebih dulu. Meskipun kemudian aku  menjalani tes untuk formalitas.

Nah, aku lanjutkan yang wawandara tadi saja. Namun, perempuan tersebut menolak permintaanku. Kami meminta Anda untu masuk tanggal 1 Desember. Lalu aku memakai jurus pamungkas. "Aku ini masih guru mbak, minimal aku harus menyelesaikan tugasku dulu baru bisa masuk kerja di sini,"  jelasku perlahan.

"Aku harus memberikan nilai mereka dan menuliskannya di raport, karena aku ini wali kelas mereka," tambahku menguatkan argumentasi sebelumnya. "Tidak baik bagiku meninggalkan pekerjaan dalam keadaan tidak bertanggung jawab," aku membubuhkan kata-kata sebelumnya.

Setelah bernegosiasi, akhirnya mereka mau menerima tapi tidak juga memenuhi permintaanku. "Baiklah, kami memaklumi kondisi Anda, bisakah Anda masuk pertengahan Desember,"? desak laki-laki yang ternyata wakil pemimpin redaksi itu. "Bagaimana kalau tanggal 20 saja," kataku tanpa berpikir matang-matang.

Bagiku itu sudah jalan tengah yang tidak bisa ditawar-tawar lagi. Dengan pertimbangan, bahwa aku setidaknya sudah menuliskan rapor anak-anak dan memeriksa ujian mereka.

Soal bagi rapor, biarlah guru lainnya yang melakukan. Aku benar-benar nekat, karena aku tersudutkan. Aku tidak bisa menolak pekerjaan ini sebab itu adalah impianku. Namun aku juga tidak bisa meninggalkan pekerjaan sebelumnya begitu saja, tanpa membereskan apa yang menjadi kewajibanku.

Kami akhirnya sepakat. Jadilah aku menginjakkan kaki di penghujung Desember 2010 itu di kantor ini dimana aku sekarang bekerja.

Akupun memulai karirku sebagai juru tinta dari hari ke hari. Perjuangan demi perjuanganpun aku lalui dengan satu tekat. Aku harus bisa lolos selama masa penilaian satu tahun pertama. Aku tidak bisa lagi mencari pekerjaan yang lebih baik, setidak saat ini.

Aku sudah terlanjur memutuskan keluar dari sekolah itu. Artinya aku sudah keluar dari kenyamanan itu, dan aku menuntun diriku dalam arus perubahan yang arahnya masih belum menentu ini. Kuncinya memang ada di tanganku, tapi tidak mudah memutar kunci itu sesuai kehendak, butuh kerja keras, keuletan dan tanpa kenal lelah.

Kini setelah satu tahun penuh aku di perusahaan ini, akupun bisa bernafas lega. "Selamat kamu diangkat jadi pengawai tetap," ujar redakturku saat memberitahukan kabar gembira ini. Akupun menahan kegembiraan meluap di depannya, meskipun dalam hati, darahku mendesir sebagai tanda kegembiraan. "Terima kasih mas," ujarku setengah berbisik.

Kini setelah berjuang sekuat tenaga hasilnya aku petik. Apakah aku sudah cukup untuk berjuang? ternyata tidak.

Ini hanyalah permulaan, aku harus membangun karir ini lebih baik lagi, setidaknya membangun diriku menuju masa depan yang cerah dan mencapai impianku menjadi penulis sebagaimana aku idam-idamkan di kala masih duduk di bangku kuliah dulu.

Mimpi itu sudah diberi jalan, kini tergantung aku, apakah akan benar-benar menggunakan itu atau memilih memanjakan diri dan berpuas diri dengan status baruku, karyawan tetap.

Asal tahu saja, dari dulu aku tidak suka dengan istilah jadi karyawan, aku lebih suka menjadi independen. Aku tidak mau bermental karyawan, tapi aku mau bermental pengelana. Akankah aku nantinya menjadi seorang pengelana sejati, menjadi penulis yang mandiri dan independen? Di mana aku tidak harus lagi menjabat sebagai karyawan?

Sebelum menjawab semua itu, aku ingin bersyukur dulu, pengangkatan ini merupakan hadiah natal yang indah bagiku. Natal kali ini menjadi momen untuk beryukur dan berterima kasih atas anugerah Tuhan yang selama ini aku abaikan dan aku singkirkan.

Dalam hati kau berkata, Tuhan, terima kasih natal tahun ini, pengangkatan ini aku jadikan hadiah natal bagiku. Aku dilahirkan kembali menjadi seorang karyawan dan hidupnya sudah jelas, setidaknya untuk sementara.

Tapi ajari aku supaya tidak berpuas diri dan tidak bermental karyawan. Semoga pengangkatan ini menjadi pijakan bagiku untuk meraih sesuatu yang lebih besar untuk membangikan sesuatu yang lebih besar lagi bagi orang lain.

Melalui Natal ini bersama hadiah ini, aku akan selalu bersyukur dan berharap, Kau terus menuntunku menemukan apa yang kau kehendaki dalam diriku.

Syukur tiada akhir, slogan Jacob Oetama itu harusnya menjadi milikku juga.


Jakarta, Penghujung Desember 2011

Noverius Laoli