Rabu, 20 Maret 2013

Presiden SBY, kegiatan dan Tamu-tamunya

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sendang berbicang-bincang dengan Mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair di Kantor Presiden, Rabu (20/3). Foto: Noverius Laoli
Rabu 20 Maret 2013


Dalam satu bulan terakhir, saya kerap kali bangun agak kesiangan. Cuaca Jakarta yang panas membuat sulit tidur dan tidurnya pun tidak nyenyak. Kamarku yang kecil dan hanya ada kipas angin tidak bisa mengusir gerah yang muncul tiap malam. Padahal pagi ini aku harus buru-buru ke Jakarta Convention Center (JCC) untuk menghadiri acara Pak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY). Pada tahun 2013 ini saya ditugaskan oleh kantor untuk menjadi wartawan istana negara dan meliput semua kegiatan sang presiden.

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 09.00 WIB. Aku berangkat ke JCC dengan sepeda motor. Suasana jalanan memang masih macet dan udara yang panas seakan membakar kulit. Para pengendara sepeda motor tampak tidak sabar dan terkesan buru-buru. Pengendara kenderaan roda dua ini suka menyalib sana sini seolah tak peduli akan nyawanya. Aku terus memacu sepeda motorku dan akhirnya memasuki kawasan Senayan. Sebagai wartawan yang memiliki kartu pers Istana Presiden, aku tidak mengalami kesulitan saat melalui pintu pemeriksaan. Bahkan tidak perlu lagi menggunakan ID pers yang disiapkan panitia bagi wartawan-wartawan lain yang tidak memiliki kartu pers istana.

Di JCC terlihat banyak orang yang berseragam militer. Ketika memasuki Plenary Hall, ruang pertemuan, terdapat sekitar 1000 tentara menggunakan pakain dinas militer negara masing-masing. Ternyata di pertemuan kali ini, ada sebanyak 38 negara yang mengirim militernya dan setiap negara dipimpin satu ketua delegasi. Kabarnya, ada juga banyak menteri pertahanan negara-negara di dunia yang sudah berada dan akan meramaikan Penyelenggaraan Jakarta Internasiotional Defense Dialogue (JIDD) 2013.

Di sinilah, Presiden SBY dan kemudian baru tahu, ternyata Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao memberikan sambutan mereka. Tentu saja dalam acara ini, semua pembicara pasti menyampaikan sambutan mereka dalam bahasa inggris. Bagi saya yang bahasa inggris hanya pas pasan tentu tidak mudah membuat berita dengan cepat dan menyimpulkan topik menarik yang akan dibicarakan. Tapi untung saja, sebelum SBY menyampaikan sambutan, saya sudah mendapatkan soft copy pidatonya dalam bahasa inggris. Dengan demikian, tugasku tidak terlalu sulit, tinggal membaca naskah pidato itu dan menentukan topik apa yang mau saya tulis. Tapi karena teksnya menggunakan bahasa inggris, maka saya harus lebih hati-hati memahami kata demi katanya agar tidak terjadi kesalahan pada saat membuat beritanya.

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sedang berbincang dengan Perdana Menteri Timor Leste Xanana Gusmao setelah keduanya melakukan pertemuan bilateral di Istana Merdeka, Rabu (20/3). Foto: Noverius Laoli
Sebelum pukul 14.00 WIB saya sudah berada di Istana Merdeka. Di Istana yang digunakan hanya pada saat menerima tamu-tamu negara sekelas kepala negara atau pemerintahan ini, baru saya masuki sejak dua hari terakhir. Berbeda dengan hari Kemarin ketika Presiden menerima Presiden Republik Belarus Alexander Lukashenko. Waktu itu, diadakan upacara penghormatan dan dilepaskan beberapa dentuman meriam. Kali ini tidak ada pasukan kehormatan dan SBY hanya menyambut tamunya di depan pintu masuk Istana Merdeka.

Setelah melakukan pertemuan kurang lebih selama satu setengah jam didampingi menteri luar negeri masing-masing negara dan beberapa menteri dari Indonesia, SBY dan Xanana keluar dari pintu utama Gedung Istana Merdeka. Presiden tampak asyik berbicara dengan Xanana ketika mereka melewati depan kerumunan wartawan dan menuju ke mobil dinas yang sudah menunggu Xanana. SBY kemudian meminta awak media untuk mendengarkan isi pembicaraan dari Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa.

Ada dua topik pembicaraan utama antara dua kepala negara. Topik pertama terkait masalah perbatasan antara Indonesia dan Timor Leste. Ternyata masih ada tiga titik yang masih bermasalah dan belum dituntaskan hingga hari ini. Sementara persoalan perbatasannya lainya sudah rampung 90%. SBY ingin tiga embarkasi yakni Dilumik-Memo, Bijael Sunan-Oben dan Noel Besi-Citrana dapat segera diselesaikan pada penghujung masa pemerintahannya yang tinggal satu setengah tahun lagi.

Hanya setengah jam berselang setelah melepas Xanana, SBY harus menerima mantan Perdana Menteri Inggris Tony Blair. Namun SBY menerima Tony Blair di Kantor Presiden yang sehari-hari digunakan sebagai tempat bekerja. Kantor Presiden ini berada di tengah-tengah antara Istana Merdeka dan Istana Negara. Ruang Kantor Presiden ini memang tampak agak kecil seukuran ruangan kelas di sekolah negeri pada umumnya. Isinya juga tidak mewah. Di situ terdapat sejumlah kursi, lukisan yang menempel didinding putih, dan gorden berwarna merah yang ada di tengah menghadap ke arah kursi tamu. terdapat juga beberpa lampu hias, lemari kecil dan meja kecil serta karpet berwarna merah.

Maka tidak heran ketika sedang menunggu Tony Blair, SBY berbincang-bincang dengan para wartawan yang sudah berbaris rapi di halaman depan Kantor Presiden. SBY menceritakan bahwa kantornya itu sangat sederhana, jauh berbeda dengan kantor-kantor kepala negara lain, termasuk para pejabat di negeri ini. Padahal di kantor tersebut, presiden menjalankan roda pemerintahan dan menerima tamu-tamu penting, baik itu kepala negara, mantan kepala negara, dan sejumlah tokoh penting nasional.

Bukan kali ini saja presiden menceritakan soal kondisi kantornya tersebut. Seminggu yang lalu ketika menerima tujuh Jenderal Purnawirawan TNI yang dipimpin oleh Luhut B Panjaiatan, SBY mengibaratkan kantornya sebesar ruangan kerja danyon (komandan bataliyon) 74. Ia bilang kantornya tersebut tidak semewah ruang kerja bupati dan pejabat lainnya di negara ini.

Tidak berhenti di situ saja, setelah bercerita soal kondisi kantornya, presiden kini kembali bercerita soal kondisi fisiknya. Di depan wartawan ia kembali bicara, ia meminta para awak media yang diam saja dari tadi mendengarkan ocehannya untuk melihat matanya. SBY bilang matanya merah. Kalau kondisi seperti itu menurut sang presiden ada dua kemungkinan. Yang pertama adalah mata merah menandakan ia sedang marah, atau yang kedua matanya merah karena ia kekurangan tidur. Setelah melemparkan pernyataan itu, ada wartawan yang berani bertanya, katanya yang benar yang mana pak? Namun tuan presiden hanya tertawa dan mengatakan "ngak tahulah." Para wartawan pun ikut tertawa bersama sang presiden.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menyambut Mantan Perdana Menteri Tony Blair di depan Kantor Presiden, Rabu (20/3). Foto: Noverius Laoli

Tidak lama kemudian sang tuan mantan perdana menteri, Tony Blair muncul dengan tiga mobil sedang. Ia langsung disambut hangat oleh presiden SBY. Mereka bersalaman hangat dan memasuki kantor presiden. Nah itulah aktivitas presiden hari ini, cukup melalahkan bukan. Namun jika presiden mengeluh karena matanya merah dan kantornya kecil, bagaimana dengan wartawan? Setelah dari JCC harus menuju Istana dengan kemacetan dan panas terik matahari. Apakah tuan SBY merasakan seperti para pewarta ini? Belum lagi deadline yang terus memburu mereka dan harus mendapatkan berita dan gambar terbaik di setiap momen acara presiden.

Mungkin kalau pak presiden mengalami mata merah karena marah atau kurang tidur, para pewarta mengalami mata dan hati yang merah lantaran harus berjuang mendapatkan berita dengan kondisi medan yang tidak mudah. Beda dengan SBY yang meluncur di tengah kemacetan Jakarta seperti melewati jalan tol pada musim libur. Wartawan harus berjuang dalam panas terik dan macetnya ibu kota. Tapi bagaimana pun bapak presiden pasti juga lelah, mungkin tidak hanya secara fisik tapi juga psikis.

Oleh Noverius Laoli

Selasa, 08 Januari 2013

Komitemen Baru di Tahun yang Baru

Satu minggu sudah memasuki tahun baru 2013. Ada banyak harapan baru yang bermunculan. Harapan baru itu bisa mulai dari bangun tidur lebih pagi lagi, hingga mewujudkan cita-cita yang selama ini masih tertunda. semuanya bertujuan untuk membangun diri supaya lebih matang, baik itu dalam masalah pekerjaan, pola pikir dan gaya hidup sehari-hari. Cara memandang suatu persoalan pun diharapkan bisa lebih mantaplagi.

Saya masih ingat pada tahun 2012 lalu. Ada banyak pencapaian yang sudah dilalui, namun tak sedikit juga persoalan  yang muncul. Mulai persoalan pekerjaan, kemalasan, dan tentu saja asmara. Sebagai seorang lajang, masalah yang satu ini memang masih saja membututi. Tentu saja, untuk semua persoalan ini, kita berharap bisa mengatasinya pada tahun 2013 ini. Tahun yang baru ini membawa secercah harapan untuk kehidupan yang lebih baik lagi.

Sebagai warga yang tinggal di Jakarta, ibu kota ini memang terasa beda. Tepat pada awal tahun ini misalnya, saya sudah dua tahun penuh tinggal di kota metropolitan ini. Dari sekian banyak pengalaman yang sudah kulalui, ada satu yang menarik perahatianku. Di jalan-jalan, orang Jakarta itu terlihat super sibuk. Sehingga cara mereka mengemudikan kenderaan pun terlihat sangat lincah dan sangat cepat. Di tengah kemacetan Jakarta, mereka masih bisa menyelip dari celah-celah kenderaan lainnya yang masih tersisah.

Gaya mengemudi seperti ini jauh sekali berbeda dengan di Bandung. Saya tinggal di kota kembang ini kurang lebih tujuh tahun. Di sini, sebagian besar pengemudi kenderaan lebih santai dalam berkenderaan. Berbeda dengan Jakarta yang tampak dipenuhi orang-orang yang diburu waktu dan persaingan.

Nah melihat perbandingan ini, muncul kesadaran, bahwa untuk maju dan mewujudkan segudang harapan pada tahun ini perlu usaha yang ekstra keras. Jika selama ini, pola hidup seperti bangun siang, suka membuang-buang waktu, dan tidak kompetitif, mewarnai hari-hari yang dilewati, maka pada tahun 2013 ini, harus ada usaha untuk mengubah semuanya. Bisa dengan mengharuskan diri bagun lebih pagi, melawan kemalasan, dan memiliki tujuan hidup yang jelas. Ada juga usaha keras untuk mencapai sesuatu pada tahun ini. Kira-kira pola pikir seperti ini menyelimuti semua orang juga waktu memasuki tahun baru ini.

Masalahnya, setelah memasuki tahun ini, banyak orang yang lupa akan apa yang ingin dia ubah. Maka pola hidupnya akan sama dengan tahun sebelumnya. Kemudian akan sadar pada akhir tahun dan kembali memacu diri lebih baik lagi pada tahun baru, tapi pola lama terulang lagi. Ternyata untuk mewujudkan angan-angan itu tidak mudah. Perlu sebuah komitmen untuk maju.

Apa pun yang akan diwujudkan pada tahun 2013 ini tak akan pernah berhasil jika tanpa komitmen. Ada komitmen untuk bangun pagi, dan itu harus dimulai sejak hari ini juga. Ada komitmen untuk menulis setiap hari di blog, minimal sekedar cerita tentang hari ini, dan ada komitmen untuk mencapai sesuatu dalam pekerjaan atau dalam hidup pada tahun ini. Targetnya, di penghujung tahun ini, semua komitmen itu, setidaknya sudah menunjukkan hasil.

Bagi yang masih jomblo, ada komitmen untuk mendapatkan pacar. Sehingga pada penghujung tahun ini, ia bisa merayakan tahun baru bersama dengan sang kekasih, misalnya. Tapi yang lebih mengutamakan karir, ada komitmen untuk mendapatkan hasil pekerjaan yang lebih baik, sehingga pada akhir tahun, mereka mendapat nilai yang bagus dan berefek pada bonus dan jenjang karirnya. Ada banyak hal sebenarnya yang bisa kita lakukan pada tahun ini, dan mencapai hasilnya pada penghujung tahun nanti. Tapi semuanya hanya bisa terwujud jika kita setia pada komitmen hidup kita. Selamat berkomitmen.

Senin, 11 Juni 2012

SINDHUNATA, Kerja Kaki dan Tangan Sang Wartawan


Oleh Rhoma Dwi Aria Yuliantri

Sindhunata adalah unikum dalam dunia jurnalistik di Indonesia. Begitu kata Jakob Oetama,  dalam kata pengantarnya untuk buku features jurnalistik Sindhunata, Cikar Bobrok (1998).

Menurut Jakob, Sindhunata telah membuat reportase liputan dan laporan yang dalam segala kejadian dan permasalahan berhasil menangkar denyut dan napas perikemanusiaan, yang menampilkan suatu kejadian dan permasalahan dalam konteks yang kemarin, kini, dan akan datang, serta yang penemuan, pengolahan dan pengerjaannya disertai pergulatan, refleksi, serta pemahaman. 

Selanjutnya, Jakob menyimpulkan, “Dengan sikap dan orientasi itu kejadian dan persoalan berhasil diangkat ke atas panggung reportase dalam sosoknya yang nyata, hidup, berdenyut, berdesak, berkeringat, berairmata, bersenyum, dan berpengharapan.”

Lahir di Kampung Hendrik, Batu, Malang pada 12 Mei 1952, Dr. Gabriel Possenti Sindhunata, SJ menyelesaikan pendidikan seminari di Seminarium Marianum Lawang, Malang pada 1971. Pada tahun 1980 dia menyelesaikan studi filsafat di Sekolah Tinggi Filsafat Driyarkara Jakarta, dan pada 1983 berhasil lulus studi teologi di Institut Filsafat Teologi Kentungan, Yogyakarta. Sindhunata kemudian melanjutkan studi doktoral filsafat di Hochschule für Philosophie, Philosophische Fakultät SJ di München, Jerman pada tahun 1986 hingga 1992. Tesis doktoralnya membahas mengenai pemberontakan petani Jawa di zaman colonial pada abad ke-ke-19 sampai awal abad ke-20. Tesis itu telah terbit menjadi buku berjudul Hoffen auf den Ratu-Adil.

Karir jurnalistik Sindhunata dimulai dengan bekerja sebagai wartawan Majalah Teruna terbitan P.N. Balai Pustaka Jakarta pada tahun 1974. Walaupun hanya bertugas menulis berita tentang kegiatan di SMA-SMA di Jakarta, Sindhunata sangat terkesan dengan pengalamannya ini. Sindhunata sendiri mengatakan, “Pengalaman ini menggariskan ke mana kehidupan saya selanjutnya akan berjalan, yakni ke dalam dunia jurnalistik.” Dan ternyata, Sindhunata memang setia menjalani garis hidupnya sebagai wartawan sampai kini. Pantas, bila PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) pada tahun 2005 menganugerahinya Penghargaan Kesetiaan Profesi sebagai Wartawan selama tiga puluh tahun masa pengabdian.

Pergulatannya sebagai wartawan dimulai ketika pada tahun 1977 dia menjadi wartawan harian Kompas, Jakarta. Di harian ini Sindhunata dikenal karena feature-feature tentang nasib dan penderitaan orang kecil. Feature-feture-nya itu sedemikian menyentuh hati pembacanya. Dengan membaca tulisannya, pembaca seolah dibawa masuk ke dalam nasib, penderitaan, dan pengalaman orang-orang kecil yang dijumpai Sindhunata dalam tugas jurnalistiknya.

Ia tak berhenti menulis feature juga ketika ia berhenti menjadi wartawan Kompas dan bekerja  di Majalah Kebudayaan Basis di Yogyakarta. Atas pertimbangan dan saran empu sastra Jawa kuno dan pendiri Majalah Basis, Prof. Dr. Piet Zoetmulder, SJ, pada tahun 1994, ia menjadi pemimpin redaksi majalah kebudayaan tersebut menggantikan Dick Hartoko, yang memasuki masa pensiun. Berbekal dari pengalaman malang melintang di dunia wartawan, Sindhunata membuat terobosan yang menyegarkan. Ia mengubah format dan tampilan Basis. Dalam hal ini pun Sindhunata telah menyumbangkan jasanya. Ia telah berhasil mematahkan anggapan bahwa sebuah majalah ilmiah itu harus berkesan serius dan ilmiah pula. Di bawah kepemimpinannya, ia membuat majalah ilmiah dan serius itu menjadi menarik dan enak dibaca tanpa mengurangi bobot ilmiahnya.

Di majalah Basis ini pun Sindhunata tetap konsisten dengan pengalamannya jurnalistiknya. Ia menggarap keilmiahan dengan citarasa jurnalistiknya yang humanis. Seperti yang tertera pada logonya, ia menyebut Basis sebagai jurnalisme seribu mata. Maksudnya, keilmiahan pun harus didekati dari berbagai aspek terutama aspek kemanusiaannya. Kata Sindhunata, “Sesungguhnya aspek kemanusiaan inilah inti terdalam yang hendak dituju oleh Basis. Itulah yang tersembunyi dalam semboyan Basis ‘Menembus Fakta’.” Tak banyak wartawan Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan doktoral seperti Sindhunata. Pendidikannya itu mau tidak mau ikut mempengaruhi dan memperdalam tugas jurnalistiknya. Mungkin karena itulah ia bisa memimpin Majalah Basis di mana jurnalisme tak kehilangan keilmiahannya.  

Selain sebagai wartawan, Sindhunata adalah seorang romo, rohaniwan Yesuit, filsuf, teolog, novelis, dan penyair. Novelnya yang telah menjadi klasik adalah Anak Bajang Menggiring Angin. Ia juga telah menerbitkan novelnya yang terbaru Putri Cina (2007). Sindhunata juga senang menulis dalam bahasa Jawa. Menurutnya bahasa Jawa itu harus diasah, maka menulislah ia dalam bahasa Jawa di rubrik “Blencong” di harian Suara Merdeka.

Hingga kini sudah lebih dari tiga puluh judul buku lahir dari tangannya. Pantas bila ia disebut sebagai penulis yang lengkap dan serba bisa. Feature-feature jurnalistiknya telah diterbitkan pada tahun 2006 dalam pancalogi: “Manusia & Pengharapan”, “Manusia & Keadilan”, “Manusia & Keseharian”, “Manusia & Perjalanan”, dan “Manusia & Kebatinan”. Menyambut buku tersebut, Hikmat Darmawan,  pengasuh Beranda Komunitas  Mizan, menulis: Sindhunata adalah keajaiban. Kumpulan fiturnya di Kompas sejak tahun 1978 hingga 2002 yang terbit dalam lima buku ini adalah esai tajam tentang Indonesia sekaligus mata air pelajaran jurnalisme sastrawi. (Kompas, 23 Januari 2007). Selanjutnya Hikmat Darmawan mengatakan, “Sebagaimana Bing Slamet dan Benyamin S. adalah seniman lengkap, Sindhunata adalah penulis lengkap.”

Memang dalam menulis Sindhunata tidak membatasi minatnya. Ia bisa menulis tentang apa saja: agama, pelacur, tukang rambutan, burung-burung di bundaran Hotel Indonesia, beras, dan seterusnya – semua dengan gusto, penuh cita rasa, dan opini/ide yang telah matang dimasak oleh benaknya. Yang juga tak boleh dilupakan adalah tulisannya tentang sepak bola di Harian Kompas sejak tahun 1988. Pembaca amat menantikan Catatan Sepak Bola Sindhunata sebab di dalamnya pembaca bisa mendapatkan kisah-kisah tentang manusia dan pergulatannya, juga tentang nasionalisme, filsafat, dan budaya di balik peristiwa permainan bola. Tulisan-tulisan tersebut telah diterbitkan dalam trilogi Catatan Sepak Bola Sindhunata: Bola di Balik Bulan, Air Mata Bola, dan Bola-Bola Nasib.

Kalau toh harus disingkatkan apakah sumbangan Sindhunata dalam dunia jurnalistik, jawabannya mungkin adalah konsistensinya pada genre jurnalisme humanis sastrawi. Jurnalisme sastrawi adalah tulisan jurnalistik yang tidak sekadar memberi informasi suatu kejadian tetapi juga menggali kedalaman makna dari informasi tersebut. Selanjutnya tulisan tersebut tidak ditampilkan secara kering tetapi dituturkan dalam cara berkisah yang bisa memikat, dan membangkitkan emosi pembaca sebagaimana dibuat oleh karya sastra.

Jurnalisme sastrawi juga berusaha untuk mengetuk hati nurani pembaca dan mengajak pembacanya membuat permenungan tentang hidupnya sendiri. Untuk itu seorang jurnalis perlu banyak membaca, lebih-lebih karya sastra. Dalam hal ini Sindhunata kiranya telah memenuhi kriteria yang diinginkan oleh wartawan senior dan tokoh pers Indonesia, Rosihan Anwar. Sebagaimana dikutip oleh Jakob Oetama, dalam berbagai kesempatan Rosihan Anwar sering berkomentar bahwa pendidikan, minat serta pengembangan humaniora merupakan latar belakang yang kondusif bagi seorang wartawan. Ia menyarankan agar wartawan suka membaca, termasuk buku dan karya satra klasik dunia maupun negeri sendiri.

Tulisan-tulisan Sindhunata memang terbukti sangat enak dibaca, menimbulkan apa yang dikatakan Roland Barthes sebagai the pleasure of the text. Silakan buktikan dengan membuka halaman pertama majalah Basis. Di sana Anda akan menemui tulisan singkat nan padat di bawah rubrik ”Tanda-Tanda Zaman”, yang menjadi prolog dan visi memikat yang membuat pembaca mau membuka dan membaca majalah itu hingga selesai.

Dan tentang kedalaman tulisan-tulisannya, tak usah diragukan lagi. Sindhunata menulis dengan detail. Ia bukan tipe "jurnalis telepon" yang hanya bermodal wawancara telepon, ditambah riset serba sedikit di perpustakaan atau internet, lalu menulis di belakang meja. Kata Sindhunata, "Pekerjaan pertama seorang wartawan adalah pekerjaan kaki, baru kemudian pekerjaan tangan, tulis-menulis...." Dengan berada di lapangan, langsung mengalami peristiwa, Sindhunata bisa merengkuh detail peristiwa, dan juga rasa dari peristiwa itu.

Prinsip ini yang dipegang Sindhunata dalam menulis: langsung terjun ke lapangan. Karena prinsip itu Sindhunata bahkan pernah menghabiskan beberapa hari di lokalisasi pelacuran Kramat Tunggak pada 1979. Pengalaman itu membuahkan empat feature bersambung tentang "dunia maksiat" tersebut. Ia juga pernah ikut berjudi sabung ayam di Bali, agar dapat memahami bagaimana dunia perjudian itu berjalan, sebelum kemudian menulis laporan jurnalistik.

Salah satu cara lain dari Sindhunata dalam mengungkap detail tampak dalam tulisannya tentang tokoh-tokoh. Memang Sindhunata telah banyak menulis feature tentang tokoh-tokoh. Baik orang kecil sampai seniman tradisional kawakan seperti dalang Ki Darman Gondo, penari topeng Losari, Ibu Dewi, pembuat wayang suket, Mbah Gepuk, pelukis rakyat Citrowaluyo, empu gending Martopangrawit, penari topeng Malangan Mbah Gimun, dan sebagainya. Dari tulisan-tulisannya tampak kepiawaian Sindhunata mengolah detail untuk membangun perspektif kemanusiaan tokoh tersebut.

Dalam feature-feature-nya kita dapat membaca nama-nama ndeso seperti Mbok Tukiyem, Gujam yang pedagang rambutan, Mbah Setro, Mbok Miji, Sum yang pelacur, Pak Riadi, Pak Gacuk, Suwardi, Pak Sa'i, Pak Umang, Ateng, Pak Imu, dan sebagainya. Dari tulisan ini tampak betapa media perlu mengungkapkan bahwa ada ada hidup yang lain di luar hiruk-pikuk yang dikabarkan di koran-koran dan infotainment.

Feature Sindhunata yang berjudul "Segelas Beras untuk Berdua", misalnya bercerita tentang Mbah Setro, penjual arang yang menyiasati hidup yang sulit. Kira-kira tahun 2004-an, Mbah Setro masih menjual arang, yang digumulinya sejak zaman Belanda. Setiap hari Mbah Setro menyunggi keranjang berisi arang diatas kepalanya menempuh jalan berkilo-kilometer untuk sampai ke pasar di daerah Patangpuluhan dan Karangkajen, Yogyakarta.

Besarkah penghasilan Mbah Setro yang buta huruf itu? Dengan dua ikat arang yang dia bawa, Mbah Setro dapat mengumpulkan uang Rp12.000 sampai Rp15.000. Dan keuntungannya hanyalah Rp2.000 sampai Rp5.000! Uang sekecil itu jelas tak bisa digunakan untuk menebus kebutuhan pokok Mbah Setro bersama istrinya, Khatijah. Untuk menyiasatinya terpaksa Mbah Setro "berpuasa". Ia hanya menyeruput teh panas di waktu subuh jelang berangkat ke pasar dengan arang di pundak. "Untuk kami berdua, segelas beras sudah cukup," tutur Khatijah istrinya.

Atau misalnya lagi feature-nya yang berjudul “Mbok Tukinem Dicoba Melebihi Kemampuannya”. Di sana Sindhunata berkisah tentang Mbok Tukinem yang buta dan tak henti dilanda kemalangan. Setelah dimuat di Harian Kompas, banyak pembaca yang terenyuh dan tergerak membantu, sehingga terkumpul uang sejumlah lebih dari  satu juta rupiah. Untuk tahun 1982 jumlah itu jelas sangat besar. Peristiwa itu kemudian ditulis Sindhunata menjadi feature baru, berjudul ”Hadiah Natal Buat Mbok Tukinem”. Memang, membaca tulisannya ini orang pasti akan tergerak untuk tidak bersikap serakah tetapi mensyukuri kebahagiaan-kebahagiaan kecil yang diterima dalam hidupnya. Itulah salah satu contoh bahwa tulisan feature Sindhunata mampu menggerakkan hati pembaca bahkan sampai mereka rela memberikan sumbangan yang nyata kepada orang ditulisannya dan memang membutuhkan bantuan mereka.

Jelas, jurnalisme bagi Sindhunata adalah jurnalisme yang berpihak, yaitu berpihak pada wong cilik atau kelas bawah yang sering dilupakan banyak orang. Dan Sindhunata, dengan kerja jurnalistiknya berusaha mengabarkan keberadaan dan penderitaan mereka serta mengajak agar pembaca jangan tidak acuh terhadap nasib mereka.

Begitulah Sindhunata. Berkat ”kerja kaki”-nya, dan dengan ramuan jurnalisme sastrawi, Sindhunata kiranya telah berhasil menyingkirkan anggapan bahwa wartawan itu hanya pandai menulis tapi tidak berbuat. Tulisan-tulisan Sindhunata jelas memperlihatkan bahwa seorang jurnalis juga bisa berbuat banyak untuk kemanusiaan dan menolong penderitaan. Maka tak salah bila ada yang mengatakan, fokus Sindhu dengan tulisan-tulisannya adalah kemanusiaan (humanisme)--sesuatu yang mahal untuk era yang kadung disuntuki ketakpedulian.*** 

Rhoma Dwi Aria Yuliantri, Penulis/Periset Sejarah,Tinggal di Yogyakarta.
  • Sumber Tulisan: Taufik Rahzen, dkk.  2007. Tanah, Air, Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia. Jakarta: Iboekoe.
  • Sumber Foto: www.galeri.gangbaru.com

Sumber tulisan: http://belajarsejarah.com/?detail=beritanya&id=111&kode=1

Rabu, 06 Juni 2012

Jadikan Ranch sebagai rumah yang nyaman


Jadikan Ranch sebagai rumah yang nyaman


 Tidak mudah mengelola  bisnis ritel dengan sasaran market menengah atas seperti Ranch Market. Apalagi, basic saya adalah profesional di bisnis steel. Sudah begitu, ketika baru buka sebulan di Kebon Jeruk, Jakarta, pada 1998, Ranch Market habis dijarah karena terjadi kerusuhan.

Saat itu, karyawan down, kami shock. Namun, menurut saya, the show must go on. Seperti orang Jawa bilang, masih untung toko kita tak dibakar. Makanya, saya katakan ke mereka kalau kami akan buka lagi, meski  kerusuhan itu membuat kami merugi sampai Rp 6 miliar.

Kerusuhan itu juga yang membuat Ranch Amerika hengkang, tak lagi memberi supervisi pendirian Ranch. Namun hubungan kami clear. Kami bahkan tak perlu lagi membayar royalti. Mereka membebaskan kami memakai nama Ranch, asalkan tetap dalam teritori Indonesia.

Tidak adanya supervisi dari Amerika justru menjadi peluang kami untuk melakukan re-concept Ranch. Berbeda dengan Ranch Amerika yang menyasar pasar orang Asia, kami menyasar high end market, termasuk ekspatriat.

Tuntutannya tentu kami harus menjaga kualitas dan layanan. Di sinilah tantangan saya dan karyawan mewujudkannya. Ini pula yang lantas saya terjemahkan dalam culture atau value di Supra Boga. Yakni menciptakan suasana belanja yang menyenangkan.

Caranya, pertama, kami harus melakukan diferensiasi produk. Artinya,  produk yang kami jual tidak ada di tempat lain, tidak massal, dan unik. Ini penting agar menarik keinginan konsumen datang.

Makanya, sejak awal berdiri, kami terus mencari produk-produk tersebut. Kami ogah menunggu di meja layaknya dokter yang  menunggu pasien. Kami memiliki  tim product yang bertugas mencari produk eksklusif.

Tak hanya itu, kami juga membekali kemampuan karyawan agar mumpuni dalam menjelaskan produk, sekaligus mencari alternatif bila produk yang dicari tidak ada demi terciptanya pengalaman menyenangkan bagi konsumen. Tidak dengan cara responsif, tapi antisipatif.     

Tak gampang di tengah persaingan bisnis ritel yang ketat. Makanya, saya lebih suka menerima pegawai yang fresh karena lebih mudah dibentuk sesuai standar kami.

Kedua, memberikan produk terbaik. Produk yang kami jual adalah produk fresh. Bagi pemain lain, ini susah karena  banyak banget sampahnya. Makanya, sejak awal, kami melengkapi Ranch dengan berbagai alat dan sistem pengolahan demi menjaga kesegaran produk kami.

Tak hanya di hilir, produk kami juga terjaga sampai hulu. Misalnya, daging sapi, kami sediakan sapi yang hanya makan  gandum dalam jangka waktu tertentu. Makanya, kami menjalin kerja sama dengan peternak.
Ketiga, dari sisi service, kami harus excellent. Ramah saja tak cukup, tapi harus excellent. Ini penting karena kami menciptakan rumah ketiga bagi konsumen. Rumah pertama adalah rumah mereka, rumah kedua kantor dan rumah ketiga adalah Ranch.

Ranch juga kami ciptakan sebagai rumah kedua untuk karyawan. Mereka bebas melakukan apa saja, tapi juga harus patuh dengan aturan yang kami buat.

Sebagai orang tua yang demokratis, kami membebaskan mereka berbicara dengan saya, menyampaikan unek-unek. Tapi, mereka punya target mewujudkan mimpi bersama,  menjadikan rumah ini sebagai the biggest company.

Saya bukan pemimpin otoriter. Ketika saya tak tahu, saya bertanya. Ikan busuk itu dimulai dari kepala. Saya tak mau seperti itu.



Sumber: KONTAN

Kamis, 24 Mei 2012

Femi Sekilas Pandang





2012-05-23 20.24.25.jpg
Femi Adi Soempeno saat di semayangkan di Rumaha Sakit Harapan Kita, Slipi Jakara, Rabu 23 Mei 2012. Foto, oleh: Noverius Laoli

Peristiwa nahas jatuhnya Pesawat Sukhoi buatan Rusia meninggalkan kenangan mendalam akan seorang sahabat. Femi Adi Soempeno, wartawan Bloomberg, Media asal Amerika Serikat.

Femi yang saya kenal adalah sosok pribadi yang hangat dan menyenangkan.  Selain sebagai sosok yang cerdas, ia juga seorang yang mudah bergaul. Meskipun aku tidak mengenalnya secara dekat,  tapi kami sempat beberapa kali  liputan bersama di pengadilan. Pertama sekali mengenalnya sebenarnya bukan di pengadilan, melainkan di gedung Kontan, Media Bisnis dan Ekonomi, tempat aku bekerja.

Kala itu, salah seorang asisten redaktur (Asred) memperkenalkan perempuan kelahiran Yogyakarta, 4 April 1980 ini.  “Mbak Femi ini dulu redaktur saya, dialah yang membimbingku menulis sehingga bisa sampai seperti sekarang ini,” jelasnya.  Femi pun saat itu hanya senyum-senyum saja tanpa memberikan komenter apa-apa.

Aku pun berlagak biasa saja, bersalaman dan berkenalan dengannya. Namun setelah itu, aku tak bertemu denganya lagi. Beberapa bulan berselang, aku bertemu secara tidak sengaja dengannya di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Saat itu kami sedang mewawancarai pengacara senior yakni Ketua Persatuan Advokat Indonesia (Peradi), Otto Hasibuan.

Persoalan yang kami angkat terkait masalah Citibank dengan nasabahnya almarhum Irzen Octa, yang diduga mengalami kekerasan dari debt kolektor Citibank.  Setelah melakukan wawancara,  kami melirik satu sama lain dan  kaget.  Sepertinya kami pernah bertemu sebelumnya.  Dan tidak susah bagi kami untuk saling mengenal.  Apalagi, Femi pernah menjadi wartawan Kontan, meskipun sudah tidak bekerja di media ini  saat aku menjadi wartawan di sana.

Dari pertemuan tersebut, kami beberapa kali bertemu di Pengadilan Tipikor DKI Jakarta.  Seperti baisa, kami liputan bareng dan ngobrol sekedar basa-basi. Terakhir kami bertemu dan berbincang banyak hal ketika sidang perdana Muhammad Nazaruddin.

Satu hal yang membuat saya berkesan atasnya adalah orangnya sangat perhatian, hangat, menyenangkan dan tepat janji.  Sebagai contoh, ketika sedang liputan Nazaruddin, aku sekedar iseng aja meminta tolong kalau nanti ia dapat berkas, aku minta foto kopinya.

Setelah sidang pledoi Nazaruddin selesai, aku sudah melupakan permintaan tersebut dan fokus mewawancara pengacara. Tapi, tiba-tiba saat selesai wawancara, Femi mencari aku, dan ia langsung menyodorkan salah satu berkas pembelaan Nazaruddin kepadaku. “Ini gua tadi ambil dua, satu untuk lu  dan satu untuk gua, gua  cabut dulu ya, masih liputan di tempat lain soalnya,” ucapnya sambil tersenyum dan langsung pergi.

Tak disangka, mungkin itukah terakhir kali liputan bersama dengan Femi? Aku tidak tahu. Tapi peristiwa jatuhnya Sukhoi, ternyata menyisahkan kenangan dengan Femi. Wajah dan senyumnya sekilas melintas dalam benak. Bahkan seperti tidak percaya ia ikut dalam penerbangan itu.  Rasa-rasanya, Femi masih baik-baik saja.  Semoga ia tetap baik-baik saja.

Salah seorang teman seangkatannya saat jadi wartawan di Kontan bercerita, beberapa  hari yang lalu sebelum peristiwa naas ini, Femi sempat makan bersama dengannya. Dalam perbincangan mereka, Femi menuturkan bahwa ia telah menyiapkan tulisan atau obituari untuk tokoh-tokoh besar di Indonesia yang dia prediksi akan meninggal dunia dalam beberapa tahun ke depan, atau bisa saja meninggalnya mendadak.
Nah, obituari itu akan langsung dipublikasikan kalau tokoh yang dipersiapkan obituari  itu meninggal secara mendadak.  Apakah ini tanda-tanda? Aku tidak tahu.  Meskipun demikian,  Tuhan mungkin berkehendak lain.

Saat ini, Femi telah berada di tempat terindah yang menjadi asal dan tujuan. Selamat jalan sahabat, kau kami kenang sebagai seorang wartawan yang hangat, cerdas dan bersahabat.

Noverius Laoli

Konglomerasi Media Menggurita, Jurnalis Belum Sejahtera


yus ardhiansyah • Selasa, 1 Mei '12 19:38 • 0 komentar
1 Hari ini, 1 Mei 2012, kita kembali memperingati Hari Buruh se-Dunia. Seluruh gerakan buruh dari berbagai sektor turun ke jalan, melakukan aksi memprotes kondisi kesejahteraan dan kondisi kerja yang belum adil bagi kaum buruh. Tidak terkecuali buruh media, yakni para jurnalis, juga belum merasakan kesejahteraan dan kondisi kerja yang adil. Bagi jurnalis, bahkan tidak hanya menghadapi persoalan kesejahteraan saja, tetapi juga masalah kebebasan pers yang semakin mengancam, yang datang dari aparat negara, laskar kemasyarakatan, dan intervensi pemilik perusahaan pers terhadap independensi ruang redaksi .
Ancaman terakhir inilah yang kini dirasakan AJI Jakarta semakin mengkhawatirkan. Terlebih menjelang Pemilihan Umum (Pemilu) 2014, AJI Jakarta melihat pemusatan kepemilikan media semakin kentara, terutama di media televisi, sehingga mengancam independensi ruang redaksi Kolaborasi penguasa partai politik dan penguasa media massa bakal menempatkan jurnalis Indonesia menjadi lebih rentan terhadap berbagai intervensi politik kekuasaan. Kondisi ini tentu sangat mengancam fungsi pers sebagai pilar keempat demokrasi yang berfungsi menjalankan kontrol publik terhadap jalannya kekuasaan negara dalam kehidupan sehari-hari.
Gurita konglomerasi media saat ini semakin menakutkan. AJI Jakarta bersama sejumlah organisasi masyarakat yang tergabung dalam Koalisi Independen untuk Demokratisasi Penyiaran (KIDP) telah mengajukan uji materi ke Mahkamah Konstitusi (MK) atas tafsir Pasal 18 Ayat 1 dan Pasal 34 Ayat 4 UU No 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran. Untuk mengingatkan kembali tentang bahayanya pemusatan kepemilikan bagi publik, dalam perayaan hari buruh ini, AJI Jakarta mengusung ikon gurita, simbol bahwa jurnalis semakin terjepit dalam situasi konglomerasi media saat ini.
Ironisnya, dalam situasi saat ini, kesejahteraan jurnalis semakin memprihatinkan. Di Jakarta saja, hasil survei upah jurnalis yang dilakukan AJI Jakarta menjelang hari buruh kali ini, menunjukkan banyak jurnalis di Jakarta memiliki penghasilan yang tidak layak, diukur dari standar upah layak AJI Jakarta tahun 2012 yang tahun sebesar Rp 4,9 juta per per bulan –ralat, sebelumnya ditulis Rp 5,2 juta per bulan-- (take home pay, untuk jurnalis setingkat reporter dengan masa kerja 1-3 tahun). Ternyata, jurnalis televisi dari stasiun televisi milik konglomerat media nasional, misalnya, bahkan hanya diberikan upah tidak sampai Rp 3 juta per bulan (lihat daftar survei upah).
Kondisi ini tentu tidak kondusif untuk menciptakan iklim jurnalisme yang sehat di Indonesia. Kesejahteraan jurnalis yang rendah tentu akan membuat jurnalis rentan mendapat godaan suap dalam bentuk apapun dari narasumber. Ini sangat membahayakan bagi kebebasan pers karena pers dapat dikendalikan oleh kepentingan narasumber, tidak lagi mengabdi kepada kepentingan publik.
Selain masalah kesejahteraan dan kebebasan pers yang mencuat, kondisi kerja jurnalis di Jakarta awal tahun ini diwarnai dengan pemberangusan serikat pekerja oleh perusahaan media. Pemberangusan serikat pekerja ini menandakan media massa di Indonesia belum benar-benar menjadi instrumen demokrasi yang sejati, karena perusahaan media justru menebarkan ancaman terhadap kebebasan bersuara dan berorganisasi bagi jurnalis. Hal ini tercermin dari kasus Luviana dan pemecatan 13 orang anggota dan pengurus Serikat Pekerja Indonesia Finance Today (IFT) yang saat ini diadvokasi oleh AJI Jakarta dan Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Pers.
Luviana, jurnalis perempuan dari Metro Tv, tiga bulan terakhir ini dibebastugaskan oleh Manajemen Metro Tv lantaran menuntut perbaikan kesejahteraan, meminta perbaikan manajemen ruang redaksi, dan menggagas berdirinya organisasi pekerja yang mampu memperjuangan aspirasi karyawan di Metro TV, perusahaan televisi milik Surya Paloh, seorang pengusaha yang juga pendiri Partai Nasdem dan tengah gencar menggaungkan slogan Restorasi Indonesia itu melalui televisinya.
Begitu juga dalam kasus Serikat Karyawan IFT. Tiga belas orang jurnalis anggota Sekar IFT telah dipecat secara sepihak oleh manajemen PT Indonesia Finanindo Media, perusahaan media penerbit harian Indonesia Finance Today (IFT). Para jurnalis anggota dan pengurus Sekar IFT ini tengah memperjuangkan hak normatifnya, antara menuntut manajemen mengembalikan pemotongan gaji sepihak 5%-27,5% yang berlaku sejak Februari 2012, membayarkan kompensasi tunai atas tunggakan Jamsostek selama lebih dari setahun, dan membayarkan tunggakan tunjangan kesehatan selama tahun 2011. Kesemua tuntutan karyawan itu sebenarnya merupakan hak yang telah diatur dalam Perjanjian Kerja Sama (Kontrak Kerja) yang dilanggar sendiri oleh manajemen.
Kasus Luviana dan Sekar IFT menunjukkan ancaman kebebasan bersuara dan berpendapat di perusahaan pers masih mengintai setiap saat. Pemilik media juga masih alergi terhadap keberadaan Serikat Pekerja sehingga memberangus serikat (Union Busting). Padahal keberadaan serikat pekerja amat diperlukan bagi jurnalis untuk memperbaiki iklim kerja yang masih tidak demokratis. Antara lain masih diberlakukan sistem kontrak kepada jurnalis di luar ketentuan.
Kondisi inilah yang membuat AJI Jakarta seperti tahun-tahun sebelumnya, turun ke jalan melakukan aksi MayDay bersama para buruh. Dalam peringatan hari buruh 2012 ini, AJI Jakarta menyatakan sejumlah sikap sebagai berikut:
1. AJI Jakarta menuntut negara tidak boleh lagi absen dalam upaya melindungi jurnalis dari ancaman kekerasan. Negara juga perlu berperan untuk menegakkan peraturan perundang-undangan yang konstitusional untuk mencegah pemusatan kepemilikan media.
2. AJI Jakarta mendesak perusahaan media untuk lebih menghargai jurnalisnya dengan memberikan upah yang layak, memperbaiki kontrak kerja, serta melindungi kebebasan bersuara dan berserikat.
3. Menyatakan upah layak jurnalis tahun 2012 sebesar Rp 4,9 juta per bulan (ralat, sebelumnya dinyatakan Rp 5,2 juta per bulan). Kami mendesak upah layak ini dijadikan acuan bagi perusahaan media dalam memberikan upah minimal kepada jurnalis setingkat reporter dengan pengalaman minimal 1-3 tahun di media cetak, online, televisi, dan radio.
4. Kami mendesak perbaikan kontrak kerja bagi kontributor, koresponden dan stringer di media cetak, televisi, radio, dan online.

Jakarta, 1 Mei 2012
Hormat Kami,


Umar Idris                     Dian Yuliastuti
Ketua AJI Jakarta         Sekretaris

Lampiran:
Hasil Survei Upah Jurnalis di Jakarta Tahun 2012


Penyelenggara: Divisi Serikat Pekerja AJI Jakarta

Media Cetak (10 media)
No Media Upah
Reporter junior (1 - 3 tahun) Reporter senior (3 - 5 tahun)
1 Bisnis Indonesia Rp 4,5 juta Rp 6 juta - 8 juta
2 Gatra Rp 2,2 juta Rp 2,5 juta - 3,5 juta
3 Jurnal Nasional Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 3,5 juta
4 Kontan Rp 4,2 juta RP 6,3 juta - 6,5 juta
5 Koran Jakarta Rp 2,5 juta Rp 3,5 juta - 4 juta
6 Koran Sindo Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 3,5 juta
7 Rakyat Merdeka Rp 2 juta Rp 2,3 juta - 3 juta
8 Tempo Rp 2,3 juta Rp 4 juta - 5,8 juta
9 The Jakarta Globe Rp 5 juta Rp 6 - 12 juta
10 Top Skor Rp 2,5 juta Rp 4 - 5 juta


Media Elektronik (10 media)

No Media Upah
Reporter junior (1 - 3 tahun) Reporter senior (3 - 5 tahun)
1 Berita Satu TV Rp 3,25 juta
2 Jak TV Rp 2 juta Rp 3 juta - 4 juta
3 KBR 68H Rp 2,8 juta Rp 3 juta - 3,5 juta
4 Kompas TV Rp 3 juta
5 Metro TV Rp 2,2 juta Rp 4 juta
6 RCTI Rp 2,5 juta RP 5 - 8 juta
7 SCTV Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 5 juta
8 Tempo TV Rp 2,8 juta
9 Trans TV Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 4 juta
10 TV One Rp 2,5 juta Rp 3 juta -5 juta



Media Online (10 media)

No Media Upah
Reporter junior (1 - 3 tahun) Reporter senior (3 - 5 tahun)
1 Antara News.com Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 4,5 juta
2 Detik.com Rp 3,2 juta Rp 4 juta - 5 juta
3 Inilah.com Rp 2,5 juta Rp 3 juta - 4 juta
4 Jurnal Parlemen.com Rp 2,7 juta Rp 3 juta - 4 juta
5 Kapanlagi.com Rp 3 juta Rp 4 juta - 5 juta
6 Kompas.com Rp 3,7 juta Rp 4 juta - 5 juta
7 Media Indonesia.com Rp 3,5 juta Rp 4 - 5 juta
8 Merdeka.com Rp 3 juta
9 Okezone.com Rp 2,3 juta Rp 3 juta - 4 juta
10 Viva News.com Rp 2,5 juta RP 3,5 juta - 4,5 juta

Selasa, 08 Mei 2012

Arogansi Kepala Desa Lubuk Ampolu, Kabupaten Tapanuli Tengah

Jika selama ini kita disuguhi informasi soal arogansi Polisi dan TNI terhadap warga negara, ternyata kepala daerah, seperti kepala desa juga, bertindak arogan kepada warganya. Apalagi warga di desa cenderung tidak berpendidikan, dan tidak tahu apa yang menjadi hak-hak mereka.

Sebagai sebuah negara yang merdeka, setiap warga negara Indonesia seharusnya mendapatkan kehidupan yang tenang dan aman. Menciptakan ketenangan dan keamanan itu, menjadi bagian dari tugas pemerintah, baik itu pemerintah pusat, provinsi, kabupaten/kotamadya dan desa/kelurahan. Pemerintah memang sudah seharusnya mengayomi dan memberikan rasa aman kepada warganya. Jika hal itu tidak tercapai, maka pemerintah dapat disebut gagal dalam melaksanakan tugasnya.

Namun, secara fakta, tidak semua pemerintah mampu menciptakan rasa aman bagi warganya. Pasti saja ada yang membuat warga terganggu bahkan menjadi korban kekerasan dan ketidakadilan. Baik itu akibat serangan dari orang lain, maupun dari pemerintah daerah itu sendiri. Lebih para lagi, jika pemerintah setempat yang menciptakan ketidaknyamanan tersebut. Jika kepala desa menakut-nakuti warganya, bahwa mereka akan ditangkap polisi jika tidak menaati apa yang dimintanya, ini sudah di luar batas kewajaran.

Ketidaknyamanan tersebut dialami oleh salah seorang warga di Desa Lubuk Ampolu, Kecamatan Badiri, Kabupaten Tapanuli Tengah, Provinsi Sumatera Utara. Persoalannya bermula, ketika, salah seorang warga desa tetangga mengklaim bahwa perbatasan kebun miliknya dengan warga di Desa Lubuk Ampolu ini bermasalah. Warga desa tetangga ini mengatakan, perbatasan kebun tersebut sudah bergeser dan harus diluruskan. Ia menguatkan pernyataannya dengan keterangan dua saksi, yang sebelumnya sebagai pemilik kebun tersebut. Namun, ia tidak memiliki bukti atas klaimnya tersebut.

Kepala Desa Lubuk Ampolu pun memanggil para pihak dan membicarakannya. Dalam pembicaraan tersebut, kepala desa bersama perangkat desa melihat ada persoalan yang sulit diatasi. Warga desa tetangga hanya menuding saja, tanpa bukti. Ia hanya dikuatkan dua saksi. Yang notabene, keterangan saksi bisalah dibuat-buat asal sudah dapat “suntikan,”. Selain itu, keterangan saksi sangatlah lemah. Para aparat desa pun beradu argumen dan memiliki pandangan yang berbeda-beda bahkan saling bertentangan.

Di tengah perbedaan pendapat tersebut, sang kepala desa menengahi dan memberikan solusi. Ia meminta agar warga tersebut bersedia mengambil jalan tengah dengan rela membagi dua kebun milik warga desa Lubuk Ampolu, yang notabene warganya sendiri. Artinya, meskipun tidak sepenuhnya memenuhi permintaan warga desa tetangga, tapi setengah dari klaim warga desa tetangga itu harus dikabulkan.

Karena merasa tidak adil dan dirugikan, warga desa Lubuk Ampolu ini menentang keras permintaan kepala desanya tersebut. “Masa kebun itu sudah saya bangun selama lebih dari dua puluh tahun, harus saya berikan kepada dia, yang sama sekali tidak pernah mengerjakannya,” jelasnya. Bahkan ia merasa semakin tidak adil, karena bukti-bukti yang dia sodorkan seperti kayu yang sudah di cat di perbatasan, lalu masih ada sampai sekarang dan surat tanah yang sudah ditandatangani kedua belah pihak, sama sekali tidak dipertimbankan oleh kepada desanya. Ia justru curiga ada ada dengan kepala desa saya?

Jika suatu hari misalnya, setiap orang mengklaim bahwa perbatasan kebun mereka ada yang salah dan seharusnya perbatasan itu di tengah kebun milik orang lain, lalu ia membawa dua orang saksinya, tanpa bukti, maka jika berpatokan pada saran kepala desa Lubuk Ampolu, klaim orang itu harus dikabulkan,  minimal sebagian . Maka tentu saja,  setiap orang mengalami ketidakadailan.  Kebijakan tersebut bisa memicusetiap orang untuk mengklaim kebun milik orang lain sebagai miliknya, toh jika tidak berhasil, mereka akan mendapat minimal  separuh kebun milik orang lain.  Kebijakan kepala desa ini suatu kesalah besar yang membawa warganya pada ketidaknyamanan dan ketidakadilan.

Atas penolakan warga Desa Lubuk Ampolu tersebut, sang kepala desa bukannya memberikan respon yang bijak, justru kepala desa Lubuk Ampolu membela warga desa tetangga dengan mengatakan bahwa warganya tersebut harus menaati keputusannya. Ia melarang warga desanya ini mengelola kebun karet miliknya. Alasannya, karena masih dalam sengketa. Karena tidak ada kesepakatan, dan atas usulan perangkat desa yang lain, akhirnya dibuat keputusan bahwa perangkat desa tidak bisa mengatasi persoalan itu dan sudah angkat tangan. Artinya, kalau kedua belah pihak bersedia, maka mereka harus melanjutkannya ke Pengadilan. Soalnya, ranah hukum ini masuk dalam kategori perdata dan bukan pidana yang bisa ditangani polisi.

Beberapa hari kemudian, warga desa Lubuk Ampolu ini mengalami intimidasi dari pihak lawan. Setiap kali mereka bekerja di kebun karet milik mereka, sejumlah anak muda mengawasi mereka secara terang-terangan. Namun, warga desa Lubuk Ampolu ini masih bersabar. Sampai pada akhirnya, ia kembali dipanggil oleh kepala desanya. Bahkan cara memanggilanya pun dititipkan lewat anak kecil yang berusia sekitar belasan tahun. Sesuatu yang tidak lazim sebenarnya. Seharusnya kepala desa bisa membuat surat pemanggilan kepada warganya.

Warga desa Lubuk Ampolu ini memilih untuk memenuhi panggilan tersebut. Dalam pertemuannya dengan sang kepala desa, ia merasakan ada tekanan lagi. Soalnya kepala desa memintanya untuk tidak bekerja di kebun milikya yang masih dalam sengketa. Kalau ia terus bekerja, maka kepala desa akan lepas tangan dan menyuruh polisi menangkap warganya ini.

Tentu saja pernyataan kepala desa ini benar-benar aneh dan terkesan bodoh. Soalnya, persoalan perdata bukanlah urusan polisi, kecuali kalau memang ada unsur pidananya. Itu adalah urusan pengadilan. Maka tidak ada maksud lain dari kepala desa ini selain menakut-nakuti warganya bekerja dan mengintimidasinya secara langsung. Warga desa Lubuk Ampolu ini merasa hidupnya tidak nyaman hidup di desa tersebut. Dan tentu saja ia pun merasa takut jika ditangkap polisi, karena ia tidak tahu hukum sedikit pun.

Arogansi kepala desa seperti ini, mungkin juga dialami oleh banyak warga desa lainnya. Namun, jika arogansi dengan mengintimidasi dan membuat warganya tidak nyaman tetap dibiarkan, maka negara ini semakin jauh saja dari cita-cita kemerdekaan. Sudah menjadi kewajiban para camat dan bupati di daerah memantau dan membina kepala desa di wilayah mereka, agar tahu apa yang menjadi tugas mereka dan tahu apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dalam kedudukannya sebagai kepala desa. Soalnya, ada kepala desa yang mengajadikan diri mereka semacam raja-raja kecil di wilayah mereka. Para kepala desa ini sering kali bertindak otoriter, dan jauh dari demokrasi.