Oleh: SINDHUNATA
Bohong!
Kata inilah yang sekarang sedang naik daun. Memang, rakyat sedang muak
dengan ”drama kebohongan”, di mana aktor dan aktrisnya adalah
politikus-politikus yang nuraninya sudah bebal terhadap kebenaran.
Lah,
wong rakyat kecil dan anak-anak saja tergila-gila ingin memiliki
Blackberry (BB), bagaimana mungkin orang percaya bahwa seorang pesohor
dan legislator sekelas Angelina Sondakh mengaku tak memiliki Blackberry
sebelum akhir 2010?
Bagaimana kita tidak gemas ketika dalam
sidang perkara korupsi wisma atlet dengan terdakwa Muhammad Nazaruddin,
Rabu (15/2), Angelina Sondakh sebagai saksi dengan enteng terus
menyangkal semua fakta yang menunjukkan keterlibatannya.
Komisi
Pemberantasan Korupsi (KPK) memiliki bukti rekaman pembicaraan Angelina
dengan Mindo Rosalina melalui BBM (perpesanan dengan BB). Ketika bukti
itu disinggung, Angelina kembali menyangkal, mengaku tak mengenali
pembicaraan tersebut. Saking jengkelnya, pengacara Nazaruddin, Hotman
Paris Hutapea, mencemooh, ”Apa hantu yang mengirim BBM ini?”
Angelina
juga mengaku tak paham kode-kode permintaan uang kepada Mindo seperti
”apel malang”, ”apel washington”, dan ”semangka”. Padahal, menurut
Mindo, kode-kode itu jelas-jelas digunakan dalam percakapan mereka.
Seperti
Angelina, Mahyudin, politikus Partai Demokrat dan Ketua Komisi X DPR,
juga menyangkal keterlibatannya. Terhadap pertanyaan majelis hakim,
jaksa, dan pengacara, Mahyudin—yang juga Guru Besar Universitas
Sriwijaya itu—menjawab, ”Tidak tahu, lupa, atau tidak ingat.”
Alasan
lupa adalah ia pernah terserang stroke. Dalam pertemuan dengan Andi
Mallarangeng, Nazaruddin, dan Angelina Sondakh, yang ia ingat adalah
makanan udang. ”Katanya stroke, tetapi malah ingat udang.” ”Masa orang
yang lupa dipercaya jadi pemimpin komisi DPR.” Lagi-lagi, begitu cemooh
Hotman Paris Hutapea.
Kita tentu masih harus menunggu hasil
sidang lanjutan perkara Nazaruddin. Semua orang tahu, perkara ini sarat
muatan politik. Tak heran jika mereka yang berkepentingan mengatur
mekanisme begitu rupa agar skandal politik yang lebih besar tidak
terbongkar. Rakyat yang paling sederhana pun tahu, perkilahan Angelina
Sondakh dan kelupaan Mahyudin adalah bagian dari mekanisme kebohongan
itu.
Kanker ganasDi mana-mana politik
memang tak bisa terpisahkan dari kebohongan. Kebenaran sulit menjadi
kriteria politik karena politik memang tidak berkenaan dengan kebenaran,
tetapi dengan naluri mempertahankan dan memperbesar kekuasaan. Itulah
yang dibahas filsuf politik Hannah Arendt dalam bukunya
Wahrheit und
Lüge in der Politik—Kebenaran dan Kebohongan dalam Politik (1971).
Menurut
Arendt, politik bergerak sedemikian rupa sehingga mendepak kebenaran.
Politik menjadi sekadar upaya mempertahankan kekuasaan malah cenderung
jadi permainan. Hakikatnya adalah ”Who get What, When, How”.
Machiavelli
lebih realistis lagi. Menurut dia, seorang penguasa boleh mengingkari
janjinya apabila janji itu ternyata merugikannya dan apabila tiada lagi
alasan untuk tetap berpegang teguh pada janjinya. Jika semua manusia
adalah baik, usul itu keliru. Namun, berhubung manusia tidak baik dan
tidak bisa memegang kata-katanya sendiri, penguasa juga tidak perlu
berpegang pada kata-kata yang dijanjikan. Juga apabila belum ada alasan
yang benar secara hukum, penguasa bisa saja menutupi ingkar janjinya
dengan kebohongan.
Kita boleh tidak setuju dengan pendapat
Machiavelli itu. Namun, jika kita terima sebagai sinisme terhadap
kekuasaan, pendapat itu akan membuat kita realistis terhadap fakta bahwa
kekuasaan tak lepas dari kebohongan. Kata Machiavelli, kekuasaan
terkait dengan kodrat manusia yang suka bohong.
Memang, bohong,
kebohongan, dan pembohongan telah menjadi bagian dari hidup manusia. Tak
ada larangan yang begitu sering dilanggar seperti larangan jangan
berbohong. Di dunia ini ada manusia yang tidak membunuh, tidak mencuri,
tidak berselingkuh, tetapi tak pernah ada manusia yang tak berdusta atau
berbohong. Maka, kata novelis dan esais Jean Paul, bohong adalah kanker
ganas di bibir hati terdalam manusia. Kata penyair Heinrich Heine,
kebohongan bahkan bisa menyelip ke dalam ciuman dan kepura-puraan,
membuat kepura-puraan dan penipuan menjadi nikmat dan manis.
Oli
kebohonganKebohongan bisa menyelip ke mana-mana,
apalagi ke dalam politik. Itulah yang sesungguhnya kita alami sekarang
ini. Politik kita memang sedang bermantelkan kebohongan. Meminjam
kata-kata sutradara teater dan esais di Paris dan Berlin, Benjamin Korn,
politik kita bagaikan mesin yang olinya adalah kebohongan. Dalam
politik macam ini, para politikus tidak lagi berpikir tentang rakyat,
tetapi hanya bagaimana meningkatkan kerakusan dan berahi kekuasaan.
Caranya dengan mempraktikkan kebohongan.
Kalaupun relasi politik
kelihatan lancar, itu bukan karena para politikus menepati norma dan
etika kebenaran, melainkan karena hubungan itu dilumasi terus dengan oli
kebohongan. Sekali pelumasan kebohongan berhenti, mesin politik akan
macet. Jika macet, mesin politik hanya merugikan. Maklum, politik kita
berjalan tidak semata-mata untuk mempertahankan kekuasaan, tetapi juga
memanfaatkan kekuasaan untuk mengumbar nafsu ketamakan akan harta dan
uang.
Maka, roda gila kebohongan bergerak semakin cepat, sampai
kita tidak kuasa lagi mengeremnya. Kita diseret untuk hidup dalam sistem
kebohongan. Kita pun tertipu dan terjerat total oleh kebohongan itu
sampai kita seakan tak dapat lagi keluar. Kita jengkel, tetapi tak tahu
mana jalan keluar. Lama-lama kita juga terninabobokkan oleh kebohongan
itu. Itulah mungkin maksud Henrich Heine ketika ia bilang, ”Penipuan itu
manis, tetapi ketertipuan lebih manis lagi rasanya.”
Itukah yang
terjadi ketika kita menyaksikan sidang yang menghadirkan saksi Angelina
Sondakh? Kita jengkel mendengar kilahnya, tetapi seperti masokis yang
suka disakiti, kita menikmatinya juga. Rasanya seperti ketika kita
jengkel dan muak dengan segala superfisialitas kontes putri ayu
Indonesia, tetapi toh kita menikmati peragaan kecantikan dan
kemolekannya.
Ibu segala dosaKebohongan
memang sulit diberantas. Filsuf Imannuel Kant mengibaratkan kebohongan
bagaikan kayu bengkok, tidak mungkin ditukangi untuk diluruskan.
Kalau
demikian, mestikah kita membiarkan saja kebohongan? Sama sekali tidak.
Sebab, kata Kant, pembohong dan kebohongannya telah melukai, menistakan,
dan meniadakan martabat manusia. Lebih lanjut, ujar Kant, juga jika
terjadi dengan maksud baik, kebohongan akan mengakibatkan
ketidakpercayaan dalam masyarakat. Dengan jatuhnya ketidakpercayaan,
roboh pula sendi-sendi hukum. Kemanusiaan akan menderita karenanya.
Bohong itu merugikan, tidak hanya karena merugikan orang lain, tetapi
juga karena ia mengeringkan sumber-sumber hukum.
Tak usah kita
berguru kepada pemikir Barat untuk mengutuk kebohongan. Guru bangsa
kita, Prof Dr Hamka, sudah mengulas habis kebohongan dalam bukunya,
Bohong
di Dunia (cetakan III, 1971). Hamka mengulas apa itu kebohongan;
bagaimana sikap agama-agama Nasrani, Yahudi, dan Islam terhadap
kebohongan; bohong dalam ilmu jiwa; dan pendapat para filsuf,
Aristoteles, Rosseau, dan Stanley Hall, tentang kebohongan.
Dalam
pengantar buku tersebut—ditulis di Bukittinggi tahun 1949—Hamka
mengutip sabda Nabi Muhammad SAW, ”Dusta adalah ibu daripada segala
dosa.” Hamka prihatin, betapa pada waktu itu kebohongan sudah
bersimaharajalela dan betapa karena kebohongan, bangsa ini tetap melarat
dan tidak bisa maju.
Menurut Hamka, pada fitrahnya, manusia
sesungguhnya adalah benar dan jujur. Suara hati yang asli adalah jujur
dan tidak mau berbohong. Keadaan lain yang datang tiba-tiba memaksa
manusia menempuh jalan bohong. Lalu, diberikannya gambaran tentang
kebenaran. Gambaran Hamka tentang pentingnya kebenaran dan seruannya
untuk melawan kebohongan ini harus tetap berkumandang:
”Cobalah
menoleh ke mana saja pun tuan mau, tuan akan melihat bahwasanya
kebenaranlah yang jadi sendi segala macam bidang kehidupan. Saudagar
yang pembohong hanya berlaba sebentar, ekonom yang sejati harus
bergantung pada kejujuran, amanat, keteguhan janji, dan keberesan buku
perniagaan yang dijalankan dengan segala macam kicuh tidak memberikan
ketenteraman bagi jiwa dan tidak kemakmuran. Saudagar penipu hanya
berlaba amat sedikit dan rugi lebih banyak karena dia memandang
keuntungan yang sekejap bukan laba yang berlama. Tukang yang pemungkir
janji dan tidak meladeni kehendak langganan lekas ditinggalkan orang.
Majikan yang pembohong diboikot anak semangnya. Guru yang pembohong
ditinggalkan muridnya.”
Dan, betapa kata-kata Hamka tentang
kebohongan dalam dunia hukum ini seperti memantulkan kembali karut-marut
hukum kita dewasa ini: ”Hakim yang pembohong mengacaukan jalan perkara
dan menghilangkan rasa keamanan rakyat. Si tertuduh yang berdusta
mempersulit jalan perkara. Kesaksian dusta pun lebih mengacaukan lagi:
keadilan tersembunyi, orang yang benar teraniaya, dan orang yang
bersalah terlepas dari hukuman. Bangsa yang pembohong membawa merosot
seluruh kebangsaannya dan kemuliaan negaranya.”
Hamka mengatakan
bahwa bohong itu dinamai juga khianat. Dan, untuk itu ia mengutip sabda
Nabi Muhammad SAW: ”Amatlah besarnya khianatmu jika engkau cakapkan
kepada saudaramu suatu perkara, yang dia menyangka perkataanmu benar.
Padahal, engkau sendiri merasa bahwa engkau berdusta.”
Sekali
lagi, betapa relevannya kata-kata ini bagi dunia persidangan korupsi
kita akhir-akhir ini: khianat adalah laknat.
Jembatan
kejujuranBohong adalah kanker di hati manusia. Dan,
bohong itu bermuara di bibirnya. Karena itu, kebijakan Jawa mengajar:
Ajining
dhiri ana ing lathi, ajining raga ana ing busana (harga diri
manusia ada dalam bibirnya, nilai raga ada dalam busananya). Orang boleh
berdandan secantik Putri Indonesia, tetapi apabila ia tidak bisa
menjaga bibirnya—artinya suka berbohong—ia tidak berharga sama sekali.
Keelokan hanya pada busana dan raganya dan keelokan macam ini hanyalah
luaran belaka sejauh tidak dibarengi keelokan bibirnya: bukan karena
olesan lipstik mahal, melainkan karena menjadi muara kejujuran hatinya.
Memang
kita harus hati-hati dengan bibir kita.
Dalam Serat Kancil,
pujangga Raden Panji Natarata menulis tentang
uwot (jembatan)
siratalmustakim. Dalam khazanah Jawa, jembatan itu juga disebut
uwot
ogal-agil. Jembatan itu selalu goyang karena lebarnya hanya
sehelai rambut dibelah seribu. Siapa gagal melewati jembatan, ia akan
tercemplung ke dalam neraka jahanam. Dalam pengadilan di hari akhir,
setiap orang harus melewatinya. Mana mungkin? Mungkin saja jika berhati
tulus dan jujur.
Menurut Raden Panji Natarata, ujian lewat
jembatan itu tidak harus datang pada akhir zaman. Katanya,
uwot
siratalmustakim aneng tutukmu samana kang sanyata (jembatan
siratalmustakim itu nyata-nyata ada di bibirmu sekarang). Dengan kata
lain, siapa bicara benar, sekarang juga ia lulus. Sebaliknya, siapa
bicara bohong, berarti ia gagal meniti jembatan penguji kebaikan dan
kejahatan manusia itu. Tidak usah menunggu pengadilan terakhir, sekarang
juga ia terpelanting ke dalam neraka kenistaan.
Sekarang bangsa
ini sedang meniti
uwot siratalmustakim. Jika para pemimpin
bangsa yang menuntun kita tak lagi berhati jujur dan mulutnya terus
membualkan kata-kata dusta, mereka tidak hanya menjerumuskan dirinya
sendiri ke dalam kenistaan, tetapi juga mencemplungkan kita ke dalam
kenistaan. Harga diri bangsa akan terhina dan kita hidup dalam neraka
saling ketidakpercayaan.
Dengan hati berdebar-debar kita
mengikuti jalannya sidang. Inilah saat kritis, di mana kita dijemput
untuk meniti uwot siratalmustakim. Semoga para politikus, jaksa, hakim,
pengacara, dan pemuka bangsa yang terlibat sudi
anyirnakake ati
goroh minangka laku tapane, menyingkirkan hati yang bohong sebagai
tindak asketisnya.
SINDHUNATA, Wartawan;
Pemimpin Redaksi Majalah Basis, Yogyakarta
Sumber: kompas.com