Sabtu, 08 Oktober 2011

Episentrum Lifestyle

Oleh NOVERIUS LAOLI

Berbicara soal lifestyle (gaya hidup), Bandung-lah episentrumnya. Bandung menjadi wahana produktivitas dan agresivitas dalam hal gaya hidup di Indonesia. Grup-grup musik terkemuka, metal, dan grup band satanik paling banyak di kota ini. Arum jeram, gokar, clothing, dan punk dimulai dari kota sejarah ini. Bisa dikatakan bahwa Bandung semacam parameter atau lebih tepatnya barometer untuk kehidupan fashion di Indonesia.

Fashion di Bandung ini dapat dilihat dari dua sisi. Pertama, kelompok konsumtif. Mereka ini betul-betul menyadap apa pun komoditas baru, bait gadget (alat teknologi), telepon seluler, komputer/laptop, maupun yang lainnya. Apa pun teknologi yang paling mutakhir selalu diburu kelompok ini.

Kedua, kelompok produktif. Mereka adalah orang-orang yang menjalin hubungan dengan berbagai macam cara, melalui internet, kelab malam, karaoke, kelompok studi, musik, dan sejenisnya. Dalam hal ini, Bandung sangat kuat. Bandung-lah yang paling agresif dalam soal produktivitas di Indonesia.

Pada era 1960-an, Bandung telah menjadi pencetus mode mutakhir, bukan Jakarta. Grup-grup musik lahir paling banyak di Bandung. Bersama dengan itu, gaya hidup di Bandung ikut berkembang. Kelompok pencinta alam yang paling terkenal ada di Bandung, Wanadri, misalnya. Mereka ini sangat profesional, selektif, dan paling top.

Bandung dalam hal ini konsumtif sekaligus produktif. Orang-orang yang kreatif luar biasa paling banyak kita temukan di Kota Kembang ini. Mereka mampu menciptakan dan mengutak-atik barang-barang elektronik. Mereka membuat perangkat lunak komputer dan menciptakan program-progam komputer baru. Mereka juga merombak segala alat-alat teknologi canggih, merakit, mencipta ulang, dan kemudian menjualnya.

Kelompok-kelompok ini tidak hanya menciptakan grup-grup sendiri, tetapi juga pada akhirnya mereka berbisnis dan menciptakan alat-alat untuk pencinta alam, seperti peralatan kemah dan sepatu gunung. Maka, di mana pun, bila mau mencari peralatan pencinta alam yang paling lengkap, Bandung adalah pusatnya. Jadi, segala alat yang rumit-rumit diciptakan di sini.

Produktif-konsumtif

Kota Bandung, dari sudut ini, tetaplah episentrum dan mengagumkan. Bandung tidak hanya konsumtif, tetapi juga produktif. Kafe-kafe paling banyak bermunculan di sini, dan hal ini didukung juga dengan adanya sekolah perhotelan. Kelompok-kelompok kreatif tersebut bisa bekerja di tempat-tempat seperti ini. Di Bandung mereka menciptakan kafe sendiri, bahkan memiliki cabang sampai taraf internasional. Yang menarik di sini adalah kelompok-kelompok tersebut produktif dan menciptakan sendiri apa pun yang mereka anggap penting.

Produktivitas dan agresivitas inilah yang menjadikan Bandung progresif, sekaligus kosmopolitan. Aneka gaya hidup di seluruh dunia dapat ditemukan di sini. Beraneka kuliner ada semua di sini. Kebab turki dan kebab meksiko menjamur di Bandung. Dapat dikatakan bahwa segala jenis makanan ada di Bandung.

Jika melihat hubungan fashion dari segi kebudayaan, Bandung agak unik dan menarik. Gaya hidup Jawa Barat atau Bandung, khususnya, dalam masalah kultur, dalam arti gaya hidup, luar biasa terbuka. Akan tetapi, kalau kebudayaan dalam arti worldview, ada keterpecahan, seperti di berbagai daerah lainnya juga.

Di satu pihak, worldview dalam bidang agama tetap mempertahankan keasliannya. Pada kelompok masyarakat menengah ke atas, dalam soal worldview, ada keterbukaan dalam hal sains dan pengetahuan sosial. Banyak kelompok kecil menjamur, khususnya toko-toko buku, seperti Nalar di Jatinangor, Omuniuum, Reading Lights, dan Rumah Kita.

Kelompok alternatif

Di Tanah Parahyangan ini, kita dapat menemukan banyak kelompok yang mengombinasikan gaya hidup dan intelektualitas. Dalam kantong-kantong ini, mereka sangat terbuka dalam hal itu, bahkan sangat agresif. Yang menarik akhir-akhir ini dalam masalah fashion adalah munculnya kelompok-kelompok alternatif.

Mereka ini, misalnya, pembuat film independen dan musik-musik hardcore yang mulai menggurita. Ada tren untuk mengkaitkan secara erat intelektualitas dengan modernitas. Kelompok-kelompok ini, misalnya, sering menulis buku perihal gaya hidup, musik, novel, cerpen, dan segala ihwal yang mereka rasa perlu.

Dalam kaitan itu, di tataran Sunda ini gaya hidup bukan hanya sebagai kultur, melainkan juga akses memasuki modernitas intelektual. Dalam beberapa kantong film, buku, dan musik, mereka memperlihatkan dunia intelektual literer, dan memproduksi buku atau membangun toko buku. Gaya hidup seperti ini banyak di Bandung. Mereka mengombinasikan dunia gaya hidup, budaya, dan intelektualitas untuk memasuki modernitas. Hasil tersebut original, bukan bajakan dan sebagainya.

Pada akhirnya, dapat dikatakan bahwa gaya hidup di Bandung menjadi akses memasuki peradaban global modern yang lebih kreatif dan produktif, dan sebagai upaya untuk terlibat dalam wacana dunia yang semakin mengglobal.

NOVERIUS LAOLI Alumnus Filsafat Universitas Katolik Parahyangan

Catatan: pernah terbit di KOMPAS

Tidak ada komentar:

Posting Komentar